
“Muaranya adalah bagaimana lulusan kita itu lebih nyambung dengan tujuannya menjadi sarjana, yaitu dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan. Kemudian, dosen juga berkegiatan di luar kampus secara terinstitusi, dosen mendapatkan pengalaman di dunia industri satu semester atau di perguruan tinggi kelas dunia,” terang Nizam.
Ia menekankan bahwa program-program tersebut akan disiapkan pendanaannya. Ia mengimbau agar perguruan tinggi menyiapkan diri untuk mengikuti berbagai program. Selain itu, Nizam juga mengundang para praktisi, profesional, CEO, dan lainnya untuk terlibat di perguruan tinggi serta berbagi pengalaman kepada mahasiswa dan dosen. Dengan demikian, penelitian dan riset dosen dapat menjawab masalah konkret di dunia kerja dan pembangunan.
Berikutnya Nizam mencontohkan keterlibatan pemangku kepentingan di luar kampus yang menurutnya dapat memberi pengaruh positif terhadap proses pembelajaran dan peningkatan kompetensi mahasiswa.
“Misalnya, seorang lurah yang mungkin sudah dua atau tiga kali masa jabatan berbagi pengalaman di dalam kelas itu akan berdampak signifikan karena mahasiswa dan dosen dapat mengetahui permasalahan-permasalahan di desa dan keberhasilan pembangunan di desa,” ungkap Nizam.
Demikian pula dengan para CEO yang sudah berpengalaman di dunia industri, mereka akan bercerita masalah yang lebih nyata di dunia industri. “Kemudian hasil kerja dosen, output-nya hanya dua, satu digunakan oleh masyarakat atau dunia usaha dan dunia industri atau untuk pengambilan kebijakan, dan kedua adalah publikasi,” lanjutnya.
Konkretnya berupa karya dari dosen dalam bentuk publikasi internasional dan dapat digunakan oleh masyarakat atau dunia usaha dan dunia industri. Selain itu program studi juga terdorong bermitra dengan mitra-mitra kelas dunia, baik dengan perguruan tinggi di negara lain atau perusahaan-perusahaan kelas dunia.
Nizam berharap keterlibatan tenaga profesional di perguruan tinggi dapat mempercepat pergerakan roda pembangunan di Indonesia. (*/kemdikbud)



















