
Selain ruang-ruang di atas, MIN Keerom ini juga memiliki lapangan yang cukup luas, gedung olahraga, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang kepala, ruang guru, kantin, mushala, dan ruang belajar. “MIN Keerom ini memiliki 16 rombongan belajar,” kisah Arsyad penuh bangga.
Sekarang, MIN Keerom ini memiliki siswa sebanyak 360 orang, terbanyak di Kabupaten Keerom jika dibandingkan dengan satuan pendidikan lain setingkat MI/SD. Arsyad bercerita bahwa animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di MIN Keerom sangat luar biasa.
Hal senada juga diungkapkan Kasi Pendidikan dan Bimas Islam Kabupaten Keerom Kamal. Setidaknya ada dua alasan yang membuat animo masyarakat cukup tinggi untuk mendaftar ke MIN Keerom. Pertama, MIN Keerom adalah madrasah yang berprestasi. Kualitas pembelajarannya bagus, kegiatan ekstra kurikulernya juga banyak dan lengkap, ada 9 jenis. Kedua, MIN Keerom ini tumbuh di lingkungan masyarakat yang lumayan padat dan religius.
Di musim pandemi, madrasah yang berdiri di atas lahan seluas satu hektar ini melakukan pembelajaran secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Di Keerom ini sinyal sangat susah. Atas kesepakatan bersama antara orang tua murid dengan madrasah, karena Keerom ini adalah daerah zona hijau, maka pembelajaran kami lakukan tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan” ujar Arsyad.
Untuk memastikan protokol kesehatan berjalan dengan baik, pembelajaran dibagi dua shift, dan di depan setiap kelas diberi tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. “Proses pembelajaran anak-anak dibagi menjadi dua shift agar-agar jarak antara satu anak dengan lainnya bisa diatur,” imbuh Arsyad.
Sebagai tamu, saya benar-benar merasa bangga, senang, sekaligus terharu dengan perjuangan kepala, para bapak dan ibu guru di MIN Keerom ini. Madrasah yang berada jauh dari ibukota negara, provinsi, dan kabupaten ternyata memiliki banyak prestasi, diminati, dan keberadaanya sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.
Sungguh, mengelola pendidikan di tempat yang jauh seperti di MIN Keerom ini membutuhkan tekad, kesungguhan, dan juga kesabaran. Semoga ke depan semakin banyak madrasah yang hebat bermartabat. (Muhtadin AR, ASN Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan)



















