Lebih Dekat Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Keerom Papua

Berita Daerah927 Dilihat

Selesai berkenalan, kami diajak keliling MIN. Sekilas, MIN Keerom ini tampak sederhana, namun fasilitas yang dimiliki MIN Keerom ini ternyata cukup lengkap. Pertama-tama kami diajak ke ruang UKS. Kami melihat di ruang UKS ini dilengkapi dengan kamar mandi di dalam, pendingin ruangan, dua tempat tidur standar Kementerian Kesehatan, kotak obat-obatan, dan beberapa perlengkapan kesehatan.

Arsyad bercerita bahwa UKS di MIN Keerom ini cukup bagus. Menurutnya, UKS ini telah berperan besar dalam prestasi MIN Keerom meraih penghargaan Adiwiyata selama tiga tahun berturut-turut, sejak 2018. Tak hanya itu, MIN Keerom juga menjadi juara Lomba Sekolah Sehat tingkat Kabupaten Keerom pada tahun 2019.

Selepas dari UKS, kami diajak ke ruang guru. Ada 32 guru di MIN Keerom ini, 21 berstatus PNS dan 11 berstatus honorer. Kami melihat ruang guru ditata rapi berjajar menghadap ke depan semua. Saya tanya kepada beberapa guru dan juga pak Kamal, Kasi Pendidikan dan Bimas Islam Kabupaten Keerom, apakah nyaman dengan model tempat duduk yang berjajar seperti para siswa ini?

Kami pun berdiskusi. Bagaimana seandainya cara penataan duduknya sedikit diubah? Yaitu pengelompokan tempat duduk guru berdasarkan mata pelajaran atau guru kelas? jadi guru kelas tempat duduknya dikelompok dengan sesama guru kelas, lalu guru mata pelajaran (fiqih misalnya), disatumejakan dengan guru fiqih lainnya, dan sebagainya.

“Apa manfaatnya,Pak?” tanya salah seorang guru (maaf saya lupa namanya). “Banyak,”sahut saya.

“Salah satunya adalah kebersamaan dan kemauan untuk saling berbagi pengalaman mengelola kelas, atau berbagi metode untuk mata pelajaran yang sama. Atau juga mendiskusikan tugas dan rencana-rencana pembelajaran ke depan yang tepat karena adanya kesamaan mata pelajaran yang diajarkan, atau tugas sebagai guru kelas,”imbuh saya.

Sedikit bergeser, saya diajak ke ruang expose. Ini adalah ruangan yang penuh dengan hasil kerajinan anak-anak dan juga dewan guru. Beragam kreativitas yang ada kebanyakan memanfaatkan limbah, seperti lingkaran botol air mineral yang dirangkai menjadi tempat menaruh tissue, vas bunga, mainan anak-anak. Kreativitas ini juga memanfaatkan bambu dan dedaunan yang banyak ditemukan di sekitar madrasah. (lihat gambar)

Tergelitik karena kreativitas anak-anak, kembali saya mengajukan usul, bagaimana seandainya hasil karya anak-anak ini ditempatkan di kelas-kelas? Sehingga kelas menjadi berwarna.

Usul ini saya ajukan karena teringat dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas Ibu Jetty Maynur (Kepala MIN 3 Tangerang Selatan) di madrasah-madrasah yang ada di wilayah Tangerang Selatan dan Banten, di mana salah satu kerja kongkrit dari GSM itu adalah program “menghias kelas.” Jadi semua kelas akan terlihat indah sehingga membantu anak-anak senang dengan suasana kelasnya.

Blibli.com
Blibli.com