
“Laboratorium maya adalah ruang kerja elektronik untuk berkolaborasi dan eksperimentasi dalam penelitian atau kegiatan kreatif lainnya, untuk menghasilkan dan memberikan hasil melalui dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi,” ujarnya. Laboratorium maya dapat diakses melalui https://belajar.kemdikbud.go.id/.
Pada bagian lain, Khaerudin juga menekankan bahwa konsep literasi sebetulnya tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Mengingat saat ini arus globalisasi berdampak signifikan pada perubahan pola hidup masyarakat dunia maka literasi menurutnya harus juga mencakup literasi numerik, literasi teknologi, literasi budaya, dan sebagainya yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatan bagi masyarakat.
“Sejatinya, dalam hal teknologi pembelajaran bukan hanya mengembangkan teknologi. Tapi yang penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dengan tepat untuk membuat peserta didik belajar lebih optimal,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Guru IPA Sekolah Lentera Kasih Makassar, Ainun Najib Alfatih, menceritakan pengalamannya setelah menggunakan laboratorium maya. Ia mengisahkan pengalamannya bahwa dalam situasi pandemi ini, guru ditantang untuk tetap bisa memberikan proses belajar mengajar yang maksimal.
Namun demikian, pembelajaran daring memiliki banyak kekurangan. Terutama bagi guru yang dalam proses mengajar memerlukan visualisasi, kata Ainun, mereka betul-betul memerlukan praktikum. Dengan adanya laboratorium virtual ini akan sangat memudahkan para guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang lebih berkualitas.
“Sudah ada beberapa platform yang saya gunakan untuk mendukung proses belajar mengajar, sehingga bisa mengurangi rasa bosan anak-anak. Tapi setelah menggunakan laboratorium maya, saya bisa menggabungkannya dan lebih memberikan banyak kemudahan dan akses pembelajaran khususnya buat praktikum,” jelasnya.
Ainun menilai laboratorium maya sangat cocok digunakan karena tantangan terbesar dalam belajar daring adalah rasa bosan yang menyerang anak-anak. Oleh karena itu, aplikasi ini menurutnya dapat membantu guru untuk membangun motivasi anak-anak agar tidak merasa bosan dalam menerima pelajaran karena banyaknya variasi fitur yang disuguhkan.
“Adanya Rumah Belajar ini membantu saya bisa lebih memvariasikan aktivitas-aktivitas di kelas, terutama untuk aktivitas praktikum atau aktivitas yang membutuhkan visualisasi,” tutupnya. (SP)



















