
“Saya bukan siapa-siapa, hanya manusia lemah,” ujar suami dari Diah Ayu Puspita Sari ini.
Ayah dari Farasy Fitrah Naffasa, Resya Nafa Farhani Syahma, Resya Sanna Rizieq Kaffa, dan Resya Nisa Fakhira Anabel ini mencintai pencak silat dan beladiri silat memang bukan sekadar ucapan di mulut saja. Selain mendalami Tapak Suci hingga kini, ia pun pernah memasuki aliran silat tradisi di Sumatra Barat.
Tahun 1988 ia memasuki pembelajaran silat tradisi Minang di perguruan Silat Sunur, dan juga pernah mendalami Silat Tradisi Harimau Lalok. Di Silat Harimau Lalok dan Silat Sunur, Pendekar Syafrul juga diangkat sebagai guru.

Selain dua perguruan tersebut, Pendekar Syafrul juga pernah mendalami silat di perguruan Silat Has Bela. Dan di aliran beladiri lain, ia juga pernah terhitung sebagai murid di Beladiri Kempo dan Tae Kwondo.

“Silat adalah bagian diri saya hingga kini. Dengan bersilat dan mendalaminya, saya memperoleh pembelajaran bukan sekadar keterampilan membeladiri, tapi juga cara hidup,” sebut Pendekar Syafrul yang juga pernah menjalani tugas perwasitan pada Kejurnas Remaja TSPM di Yogyakarta, Kejurnas Dewasa TSPM di Batam, dan Kejurnas Dewasa TSPM di Solo ini kepada pemilik media Warta Pendidikan.
















