
Alat ini, CRP Strip dan Silk Febrion, sudah mendapatkan izin atau etica clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya.
“Dengan bekal etica clearance tesebut, kami bisa melakukan tahap berikutnya, yakni menentukan pasien DMT 2 untuk mengambil sample air liur dan pasien yang normal yang belum terkena penyakit DMT 2,” harap Intan.
Bayu menambahkan bahwa SRP-Strip ini akan dikembangkan dengan berbasis digital machine learning. Dengan aplikasi ini, pasien akan mengetahui kadar gula darah dan mendapatkan informasi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Sejauh ini penelitian yang dilakukan oleh Intan dan Bayu mendapat sambutan baik dari anggota etica clearance dan juga pembimbing Myres yakni Safitri Indah Masithah, dr., Sp.PD.
“Kami belum menghitung biaya pembuatan alat ini. Untuk CRP-Strip dimungkinkan sangat murah. Bahannya mudah didapat dan masyarakat sudah familiar, yakni kertas filter, kertas foto, dan kertas karton. Untuk alat dan aplikasi digitalnya masih kita kembangkan dan belum tahu prediksi biayanya,” ungkap Intan.
Baik Bayu dan Intan menegaskan bahwa alat ini sangat simple dan mudah dilakukan secara mandiri, tanpa bantuan orang lain ataupun tanpa harus ke rumah sakit. (kemenag)



















