Kisah Inspiratif Guru Majukan Pendidikan di Daerah Diangkat dalam Webinar GTK

Berita Nasional916 Dilihat

“Secara geografis wilayah sekolah kita berada di hutan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBPS) dan diapit langsung Samudera Hindia. Akses jalan kita masih berupa jalan tanah, ketika musim hujan berubah menjadi jalan berlumpur. Lalu, kita harus menyusuri hutan TNBPS atau menyusuri pantai di waktu-waktu tertentu. Kita juga harus melalui lima muara untuk mencapai sekolah dan pada saat musim penghujan, beberapa jembatan tidak ada, luar biasa akses jalannya,” kisah Isdiarto.

Bercerita mengenai apa yang menjadi motivasinya untuk tergerak berprofesi sebagai guru dan mengajar di sekolah tersebut, Isdiarto menjawab bahwa ia terenyuh dengan kondisi awal sekolah dan bagaimana semangat anak-anak untuk tetap belajar. Hal inilah yang membuat Isdiarto yakin bahwa dengan menjadi guru ia dapat memberikan sesuatu bagi pendidikan anak-anak bangsa.

“Saya tidak menyangka ternyata masih ada daerah seperti itu. Awal saya masuk, saya shock dan kaget, karena kondisinya sangat timpang dengan kondisi di perkotaan. Awal kita datang 2014, sekolah itu masih berdinding papan, lantai tanah, dan kondisi ala kadarnya. Tapi saya melihat peserta didiknya bersemangat dalam belajar, itulah yang menjadi motivasi saya,” terang Isdiarto.

Semangat anak-anak didik itu, kata Isdiarto, tampak dari kerelaan mereka untuk pergi ke sekolah untuk belajar meskipun menempuh jalan yang cukup jauh. “Ada yang naik turun gunung baru bisa sampai ke sekolah. Termasuk semangat guru-guru di sana, meskipun status mereka honorer, tapi mereka mampu dan bertahan untuk menjadi seorang pendidik. Jadi semangat anak didik dan kawan-kawan ini yang memotivasi saya,” pungkas Isdiarto.

Isdiarto pun melihat bahwa program dari Kemendikbudristek, dalam kebijakan Merdeka Belajar, sangat membantu para guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. Kebijakan tersebut menurutnya membuat guru-guru semangat untuk belajar karena mengajak mereka untuk mengubah pola pikir dalam menghadapi murid. Sebagaimana yang juga dirasakan Cucu Suryana dan dan Darmayanti Karmen.

“Penerapan Kurikulum Merdeka sudah kita mulai dari setahun lalu dan sudah empat kelas yang mengimplementasikan. Dengan segala keterbatasan, pasti banyak kendala, tapi kendala itu menimbulkan semangat untuk terus mendukung kekurangan kami,” kata Isdiarto. (SP)

Blibli.com
Blibli.com