
Lebih lanjut, Elyse mengatakan bahwa meski adanya keterbatasan sarana dan prasarana yang ada di sekolah, tidak lantas memupuskan semangat mendorong anak gemar membaca.
“Pihak sekolah sepakat dan bergotong-royong membuat Taman Baca, selain itu dalam kelas kami juga membuat pojok baca, sehingga tercipta suasana membaca yang nyaman,” tegas Elsye.
Bunda Literasi Nusa Tenggara Barat Niken Saptarini Widyawati juga menceritakan buku-buku bacaan yang dikirim oleh Kemendikbudristek menarik dan bermutu serta dapat memotivasi anak-anak untuk belajar dan membaca.
“Sebanyak 134.240 buku telah diterima dan dimanfaatkan oleh siswi-siswi di 80 sekolah dasar di Kabupaten Lombok Utara. Kami mendorong buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai bahan pengayaan, pembelajaran, dan pengembangan literasi sekolah,” terang Niken.
Kemudian, Pustakawan dan Pendongeng, Ario, mengungkapkan kegembiraannya atas kegiatan pengiriman buku-buku bacaan anak berkualitas, bermutu, serta pendampingan oleh Kemendikbudristek.
“Saya senang karena saya percaya, minat baca di Indonesia itu sebenarnya tinggi, namun yang kurang adalah akses baca,” pungkas Ario.
Komitmen Kemendikbudristek untuk menyediakan buku bacaan bermutu yang sesuai dengan minat anak serta dibuat dari perspektif kebutuhan anak.
Pada tahun 2022 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah menyediakan dan menyalurkan lebih dari 15 juta eksemplar buku bacaan bermutu disertai dengan pelatihan dan pendampingan guru pada lebih dari 20 ribu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) yang paling membutuhkan di Indonesia di sepanjang tahun 2022.
“Buku bacaan tersebut terdistribusi atas dukungan dan kerja sama berbagai pihak, yang tanpa lelah terus bekerja siang dan malam, baik di level pemerintah, swasta, maupun warga masyarakat,” tutup Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, E. Aminuddin Azis. (SP)



















