Pendidik Perlu Perkaya Literasi Digital untuk Tangkal Hoaks

Berita Nasional825 Dilihat

REMBANG – Di era disrupsi informasi, para pendidik maupun guru diminta untuk beradaptasi secara cepat dengan dunia yang serba digital dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Untuk itu, para pendidik harus meningkatkan literasi digital masing-masing agar dapat memberikan pencerahan kepada publik, terutama membendung banyaknya hoaks yang menggunakan sentimen agama.

“Para pendidik harus dapat mengisi ruang-ruang kosong untuk meningkatkan literasi digital kepada publik melalui media sosial yang semakin massif, terutama membendung hoaks. Apalagi, saat ini kita tengah menghadapi tahun politik. Hoaks mengenai agama, politik, dan kesehatan menduduki peringkat tinggi,” kata Staf Khusus Menteri Agama Wibowo Prasetyo dalam diskusi bertema Literasi Digital, Aman, dan Nyaman Bermedia Sosial, di Rembang, Jumat (22/9).

Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Rembang Mochammad Hanies Cholil Barro’, Kabid Penma Kanwil Kemenag Jateng Ahmad Faridi, Kepala Kemenag Rembang M Kafit, dan perwakilan LTN PBNU sebagai penyelenggara diskusi.

Mengutip data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Wibowo mengatakan, hoaks masih terus ada dan tersebar luas di media sosial. Pada 2019, misalnya, mencapai 1.221 hoaks. Kemudian, pada 2020 meningkat menjadi 2.298 hoaks. Namun pada 2021 jumlah hoaks menyusut menjadi 1.888, turun lagi menjadi 1.698 pada 2022.

“Diperkirakan jumlah hoaks akan kembali meningkat seiring dengan mulainya tahun politik pada 2023 dan 2024 di mana pilpres dan pileg serentak dilakukan. Isu-isu agama diprediksi akan dipakai sebagai materi hoaks,” tandas Wibowo di hadapan seratusan peserta dari kalangan kepala madrasah negeri dan swasta, serta para pendidik.

Wibowo mengungkapkan, selama triwulan pertama tahun 2023, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengidentifikasi sebanyak 425 isu hoaks yang beredar di website dan platform digital. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan pada triwulan pertama tahun 2022 yang mencapai 393 isu hoaks.

Masih maraknya hoaks tentu membuat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Menurut Wibowo, jika kemudian masyarakat percaya terhadap hoaks maka hal ini akan mengancam keutuhan bangsa.

“Mayoritas hoaks tujuannya memang adu domba. Kalau hoaksnya menggunakan isu agama maka akan berpotensi terjadinya konflik antarumat beragama. Kalau tidak diantisipasi ini akan jadi bom waktu yang pada akhirnya akan memporak-porakdakan bangunan persatuan dan kesatuan bangsa,” tandasnya.

Blibli.com
Blibli.com