
Ketua Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional (WANTIKNAS), Ilham Akbar Habibie, melihat potensi AI sebagai kunci pemerataan kualitas pendidikan. Namun, ia menekankan bahwa transformasi ini hanya mungkin terjadi melalui kolaborasi pentahelix antara pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat sipil, dan profesi.
“Pendidikan adalah titik sentral dari roadmap transformasi digital bangsa. AI bisa bantu guru dan siswa, tapi keputusan tetap di tangan manusia,” jelas Ilham.
Hal senada disampaikan Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Fahmi Zulkarnain, yang menyampaikan realita di lapangan: masih banyak sekolah yang mengalami keterbatasan infrastruktur dan rendahnya literasi digital. Namun, ia menyebut AI dapat menjadi game changer, dengan catatan negara hadir sebagai regulator, fasilitator, dan akselerator.
“Negara tidak boleh netral dalam revolusi AI ini. Pemerintah harus jadi pelopor, bukan penonton,” tegas Fahmi.
Forum ini juga menghadirkan demonstrasi langsung dari startup Orbit Edutech, melalui Orbit EduBot—sebuah chatbot AI yang dirancang untuk merespons pertanyaan guru, siswa, dan orang tua secara real time.
CEO Orbit Edutech, M. Andy Zaky, menyebutkan bahwa EduBot tidak hanya menjawab, tetapi juga belajar dari interaksi, membentuk pola pembelajaran adaptif dan kontekstual. Teknologi ini membuka peluang baru untuk personalisasi pendidikan dengan pendekatan yang tetap humanis dan empatik.
Melalui forum ini, Kemendikdasmen menunjukkan bahwa transformasi digital bukan sekadar proyek jangka pendek, tetapi arah kebijakan jangka panjang yang menempatkan sekolah sebagai pusat inovasi dan pengembangan karakter bangsa.
“Kami ingin teknologi hadir untuk menyatukan, bukan menggantikan manusia. Pendidikan masa depan harus adaptif, inklusif, dan tetap menempatkan kemanusiaan sebagai inti,” pungkas Yudhistira.(infopublik)

















