
SEJAK KECIL, Rafi sudah hidup dalam kepahitan dan kesedihan. Ubaid, ayah Rafi meninggal saat ia baru berusia lima tahun. Dunia yang tadinya sederhana namun penuh kehangatan berubah menjadi sepi dan sulit.
Ibunya Aini, hanya seorang buruh tani lepas di sebuah kampung kecil yang jauh pusat Kabupaten. Penghasilan Bu Aini sebagai buruh tidaklah seberapa, karena tidak setiap hari ada orang yang memberinya pekerjaan. Ia berjuang keras menyambung hidup sambil merawat Rafi dan dan dua anaknya yang lain, yakni Deni dan Wasni.
Rafi adalah anak yang paling bontot. Kedua kakaknya Deni dan Wasni terpaksa putus sekolah, karena ibunya tidak lagi mampu membiayai sekolah mereka. Alhasil, itulah yang dicemaskan oleh Rafi. Apakah dia akan bernasib sama dengan kedua kakaknya itu.
Tiap pagi, Rafi berdiri di depan rumah kecil mereka yang terbuat dari kayu dan berdinding papan lapuk beratapkan daun rumbia. Ia menatap anak-anak sebayanya yang berjalan menuju sekolah, mengenakan seragam putih-merah, yang begitu ia impikan. Tapi impian itu bagaikan langit-indah yang sangat jauh dan sulit dijangkau.
Ibunya hanya bisa menggeleng, saat Rafi memohon untuk sekolah. “Ampunkan Ibu, Nak… Bukannya Ibu tak mau menyekolah kamu, tapi ibu tak sanggup,” jawab ibunya pilu sambil mendekap anaknya dengan penuh kesedihan.
Air mata Bu Aini mengalir tanpa bisa dibendung, matanya menerawang jauh dan membayangkan nasib ketiga anak-anaknya di kemudian hari, yg tak bisa sekolah, seperti anak-anak yang lain.
Hari demi hari, tahun demi tahun, Rafi tetap duduk di beranda, belajar membaca dari sobekan koran bekas dan majalah sumbangan dari tetangga. Sampai akhirnya, di saat usia Rafi sudah tujuh tahun, sebuah keputusan berat harus diambil. Bu Aini menitipkan Rafi ke sebuah panti asuhan yang dikelola oleh sebuah yayasan sosial di kabupaten tetangga kampung mereka.
Tangis keduanya pecah di hari perpisahan itu. Berat memang bagi Bu Aini meninggalkan Rafi di Panti Asuhan itu. Dia harus berpisah dengan anaknya.
Tapi Bu Aini percaya, di tempat itu, Rafi punya harapan. Panti Asuhan Al-Hikmah namanya bukanlah tempat yang mewah. Bangunannya sederhana, dengan tembok yang mulai mengelupas dan halaman berdebu. Tapi di dalamnya ada Bu Halimah, sosok ibu pengasuh panti yang lembut dan penuh kasih. Rafi disambut hangat, diajak bicara, dipeluk. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya wafat, ia merasa tidak sendirian.
“Di sini, kamu bisa sekolah, Nak,” ujar Bu Halimah sambil mengelus rambut Rafi. “Dan kamu harus jadi orang hebat suatu hari nanti.”
Rafi mengangguk, walau tak sepenuhnya yakin. Tapi sejak hari itu, semangatnya tumbuh. Ia masuk SD, lalu melanjutkan ke SMP, SMA, dan terus berprestasi. Ia bukan yang paling pintar, tapi yang paling gigih. Ia tak pernah absen belajar, membaca, membantu teman, dan menjadi teladan di panti asuhan maupun sekolah.

















