Luaskan Wawasan Tanpa Menggerus Iman

Berita Opini1681 Dilihat

MEMPERLUAS WAWASAN adalah kebutuhan mutlak di era globalisasi. Informasi datang dari berbagai penjuru dunia tanpa batas waktu dan ruang.

Menurut laporan We Are Social 2025, rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia di internet mencapai lebih dari 7 jam per hari. Ini menunjukkan betapa besar peluang kita untuk menambah ilmu, tetapi juga menandakan ancaman jika tidak memiliki filter yang kokoh.

Filter itu adalah iman dan akal yang sehat. Keterbukaan terhadap pemikiran global memang penting, tetapi bukan berarti kita menelan mentah-mentah semua informasi. Dunia akademik maupun media sosial penuh dengan pandangan—ada yang ilmiah, ada pula yang bias ideologis.

Oleh karena itu, kita harus mampu memilah mana ilmu yang bermanfaat dan mana yang menyesatkan, sesuai dengan prinsip dalam Al-Qur’an: fa’tabiruu yaa ulil abshar (maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal).

Saat ini, tantangan paling nyata datang dari derasnya arus pemikiran relativistik. Banyak generasi muda Muslim terombang-ambing oleh gagasan-gagasan liberal yang ekstrem. Mereka mulai meragukan prinsip syariah, mempertanyakan otoritas ulama, bahkan menolak nilai-nilai yang sudah menjadi bagian dari akidah Islam. Data dari Pew Research Center (2024) menunjukkan bahwa hanya 59% Muslim muda di Asia Tenggara yang menyatakan pentingnya syariah dalam kehidupan pribadi mereka. Ini angka yang cukup memprihatinkan.

Jalan Tengah: Konsep Wasathiyah

Di tengah gejolak itu, Islam menawarkan konsep jalan tengah: wasathiyah. Ini adalah prinsip keseimbangan—tidak ekstrem dalam keterbukaan, dan tidak sempit dalam berpikir. Seperti disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 143, umat Islam diposisikan sebagai umat yang adil dan pilihan: moderat dalam sikap, tetapi tegas dalam prinsip.

Konsep wasathiyah bukan berarti kompromi terhadap kebenaran, melainkan kemampuan untuk berdialog dengan dunia tanpa kehilangan jati diri. Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali dan Yusuf Al-Qaradawi juga menekankan bahwa umat Islam harus rahmatan lil ‘alamin—membawa rahmat, bukan fanatisme. Moderasi ini pula yang menjadi prinsip dasar Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia 2020–2024.

Seorang Muslim yang wasathiy akan terbuka terhadap ilmu dari manapun datangnya, sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.” Ini menunjukkan bahwa memperluas wawasan adalah perintah agama. Namun, ilmu yang dicari harus tetap ditimbang dengan iman. Tidak semua ilmu membawa manfaat jika dilepaskan dari nilai-nilai ketauhidan.

Iman sebagai Penuntun

Dalam era informasi yang luas ini, iman harus menjadi kompas. Iman bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi juga fondasi berpikir dan bertindak. Tanpa iman, seseorang bisa mengagumi ideologi asing yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, banyak kaum intelektual yang terjebak dalam logika ateisme atau sekularisme hanya karena terlalu larut dalam bacaan Barat yang tidak difilter.

Penting untuk diingat, bahwa Islam tidak anti ilmu atau anti sains. Sebaliknya, banyak penemuan ilmiah justru lahir dari ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni. Mereka meneliti dunia fisik tanpa pernah meninggalkan nilai-nilai spiritual. Ini membuktikan bahwa iman dan ilmu bisa berjalan seiring jika disikapi dengan bijak.

Oleh karena itu, generasi muda harus dibekali dengan pemahaman agama yang mendalam dan kontekstual. Kurikulum di sekolah dan perguruan tinggi Islam harus mampu menggabungkan ilmu modern dengan ilmu keislaman. Seperti yang dilakukan oleh beberapa universitas Islam di Indonesia yang telah mengintegrasikan sains dan agama dalam model pembelajaran transdisipliner.

Di sisi lain, para orang tua, guru, dan pemimpin masyarakat juga harus menjadi teladan dalam mengamalkan ilmu dengan iman. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan sikap hidup yang seimbang, toleran, dan berpijak pada prinsip Islam yang lurus. Lingkungan yang sehat secara spiritual akan menjadi benteng paling kuat dari terpaan pemikiran sesat.

Menjelajahi Dunia, Menuju Akhirat

Perluasan wawasan bukan untuk menjadi hamba dunia, tetapi agar semakin mengenal tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi. Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 15: “Berjalanlah di bumi, dan makanlah dari rezeki-Nya…” Ini adalah perintah eksplorasi, tetapi bukan untuk melupakan tujuan akhir kita: kehidupan abadi di akhirat.

Dengan iman sebagai fondasi, kita tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak secara spiritual. Dunia ini hanya persinggahan. Maka, jelajahi dunia dengan ilmu, tetapi pastikan setiap langkah membawa kita lebih dekat kepada Allah Ta’ala.

Di tengah modernitas dan globalisasi, umat Islam harus hadir sebagai pemikir yang kritis, insan yang peduli, dan hamba yang taat. Kita bisa menjadi cendekiawan global tanpa kehilangan identitas keislaman. Karena pada akhirnya, hanya dengan iman, kita bisa menjelajahi dunia tanpa kehilangan arah menuju akhirat.(*)

Penulis: Dr. Irwandi (Dosen UIN Bukittinggi, E-mail: irwandi@uinbukittinggi.ac.id)

Blibli.com
Blibli.com