
KUALASIMPANG —Di Kabupaten Aceh Tamiang, pendidikan yang sempat lumpuh akibat hantaman banjir bandang kini perlahan bangkit. Melalui program “Kembali ke Sekolah” yang diluncurkan Senin (5/1/2026), denyut kehidupan akademik di wilayah tersebut mulai dipulihkan.
Pusat kegiatan bermula dari selasar SMP Muhammadiyah Kualasimpang dan TK ABA Rantau. Inisiatif ini merupakan hasil sinergi taktis antara Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), ‘Aisyiyah, dan pemerintah setempat.
Namun, di balik angka-angka koordinasi tersebut, terselip kisah tentang tangan-tangan yang datang dari jauh demi sebuah panggilan iman.
Salah satu sosok di garis depan itu adalah Qori. Ia bukan warga setempat, melainkan kader MDMC asal Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.
Alumni Pendidikan Agama Islam UIN Bukittinggi itu diterjunkan khusus untuk mengisi kekosongan tenaga pendidik di sekolah darurat. Di sana, tugasnya ganda: mengejar ketertinggalan materi siswa sekaligus menjadi teman bagi anak-anak dalam memulihkan trauma (trauma healing).

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir menegaskan, kehadiran relawan lintas provinsi ini adalah bukti bahwa kemanusiaan tidak boleh terkotak-kotak oleh batas wilayah administratif.
“Pengiriman tenaga pendidik ke Aceh Tamiang adalah bukti bahwa dakwah Muhammadiyah tidak dibatasi sekat wilayah. Kami ingin memastikan anak-anak penyintas tetap memegang hak mereka atas pendidikan,” ujar Irwandi di Payakumbuh, Selasa (6/1).
Sekretaris PDM Payakumbuh, Yopi Syah Putra, MH, menambahkan bahwa mobilisasi ini digerakkan oleh sistem One Muhammadiyah One Response (OMOR). Sebuah komitmen kolektif yang memastikan setiap kader di daerah memiliki kesiapan mental dan fisik untuk bergerak kapan pun bencana memanggil.
Merawat Api Harapan
Langkah pemulihan ini mendapat apresiasi dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman. Baginya, menghadirkan kembali suasana sekolah adalah cara paling efektif untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak di wilayah terdampak.

“Sekolah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang untuk merawat harapan. Apa yang dilakukan relawan dari Payakumbuh ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah hadir melampaui fase darurat; kita memastikan keberlanjutan masa depan,” tutur dr. Agus.
Upaya ini sekaligus menjadi implementasi nyata dari Surat Edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 mengenai layanan pendidikan adaptif pascabencana. Di Aceh Tamiang, kolaborasi ini mengirimkan pesan kuat: bahwa di tengah ujian alam yang berat, api pendidikan harus tetap menyala, dijaga oleh solidaritas yang tak mengenal batas.(IN)



















