
PAYAKUMBUH — Malam perdana Ramadhan 1447 H di Masjid Ansharullah, pusat dakwah Muhammadiyah Kota Payakumbuh, Selasa (17/2), berlangsung penuh kekhidmatan.
Ratusan jamaah memadati setiap sudut ruang utama demi mereguk tetesan ilmu dari tausyiah pembuka yang disampaikan langsung oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Dr. H. Irwandi Nashir.
Dalam taushiyahnya yang bertajuk “Ramadhan Memuliakan Kita”, Dr. Irwandi mengupas tuntas visi besar seorang Muslim selama bulan suci: yakni meraih kemuliaan iktisabi. Menurutnya, setiap manusia telah memiliki kemuliaan zat sebagai fitrah penciptaan, namun kemuliaan iktisabi—kemuliaan yang diraih melalui kebaikan perangai—adalah martabat yang harus diperjuangkan melalui tarbiyah puasa.
Bahaya Menuhankan Hawa Nafsu
Namun, Dr. Irwandi Nashir memberikan catatan kritis bahwa kemuliaan tersebut terancam runtuh jika manusia membiarkan dirinya dikendalikan oleh keinginan buruk (hawa).Beliau menyitir peringatan keras Allah Ta’ala dalam Surah Al-Furqan ayat 43-44.
“Jangan sampai kita menjadi golongan yang ditegur Allah, yakni orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan,” tegas muballigh Muhammadiyah Sumatera Barat ini.
Irwandi menjelaskan, ketika seseorang menjadikan hawa (keinginan buruk) sebagai pemandu hidupnya, maka martabat kemanusiaannya jatuh.Merujuk ayat tersebut, beliau memaparkan bahwa orang yang hanya mengikuti hawa nafsu digambarkan seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya.
“Ramadhan hadir untuk memutus rantai ‘penghambaan’ pada nafsu tersebut agar kita kembali pada fitrah kemuliaan sebagai manusia, bukan sekadar makhluk yang hidup demi memuaskan keinginan jasad semata,” tambahnya.
Empat Amal Utama
Untuk meraih derajat kemuliaan iktisabi dan membentengi diri dari jerat hawa nafsu, Dr. Irwandi menekankan pentingnya mengamalkan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai empat amalan utama selama Ramadhan. Amalan-amalan ini menjadi kunci pembuka pintu langit sekaligus pembersihan jiwa.

“Agar kita dapat meraih kemuliaan iktisabi itu, ada pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mesti kita amalkan dengan sungguh-sungguh,” jelasnya.
Pesan tersebut mencakup empat hal yang akan menentukan kualitas hubungan kita dengan Sang Khalik dan sesama makhluk,” ujar Dr. Irwandi di hadapan jamaah.
Dua amalan pertama ditujukan untuk menjemput keridhaan Allah Ta’ala. Pertama adalah memperbanyak mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illallaah. Kedua, membasahi bibir dengan istighfar atau memohon ampunan.
“Dua hal ini adalah fondasi. Kalimat tauhid memurnikan keyakinan kita, sementara istighfar meruntuhkan dinding dosa yang selama ini menghalangi datangnya ridha Allah,” jelasnya dengan nada yang menyejukkan.
Anugerah yang Tak Terbeli
Sementara itu, dua amalan berikutnya merupakan hal yang sangat esensial bagi setiap mukmin, di mana manusia tidak akan mampu mencapainya kecuali atas pemberian dan kasih sayang Allah Ta’ala. Amalan tersebut adalah memohon surga-Nya dan meminta perlindungan dari pedihnya api neraka.
“Dua hal terakhir ini adalah puncak permohonan kita. Kita tak dapat mencapainya hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Itu murni anugerah yang harus kita ketuk pintunya melalui ketaatan selama bulan suci ini,” tambah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi itu.
Momentum Perubahan
Antusiasme jamaah terlihat stabil hingga akhir rangkaian Shalat Tarawih dan Witir. Dr. Irwandi berharap, melalui perpaduan antara zikir tauhid, istighfar, dan doa tulus memohon surga, kaum Muslimin di Payakumbuh tidak hanya sekadar menahan lapar, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi insan yang memiliki kemuliaan perangai yang luhur.
Masjid Ansharullah sendiri dijadwalkan akan terus menghadirkan kajian-kajian tematik sepanjang Ramadhan untuk mengawal konsistensi ibadah masyarakat, menjadikan bulan ini sebagai madrasah akhlak yang sesungguhnya. (IN)



















