
WARTA PENDIDIKAN – Dunia intelektual Islam hari ini kehilangan salah satu mercusuar terbaiknya.
Wafatnya Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas (SMNA) pada 8 Maret 2026 lalu, bukan sekadar berita duka yang mengisi kolom obituari media massa. Kepergian Prof. Naquib al-Attas adalah penanda berakhirnya sebuah era di mana ilmu pengetahuan diletakkan di atas singgasana martabat dan adab.
Al-Attas bukan hanya seorang pemikir, ia adalah seorang “arsitek peradaban” yang menghabiskan sisa usianya untuk melawan arus mekanisasi pendidikan melalui institusi legendaris yang ia dirikan: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Bagi mereka yang pernah menjejakkan kaki di kompleks ISTAC di Bukit Tunku, Kuala Lumpur, institusi ini bukanlah sekadar kampus pascasarjana. Ia adalah manifestasi fisik dari pemikiran Al-Attas tentang keagungan Islam. Dengan gaya arsitektur yang memadukan keanggunan Andalusia dan kewibawaan Utsmaniyyah, ISTAC dibangun sebagai sebuah “buku teks yang hidup” (living textbook). Setiap sudutnya, mulai dari tiang-tiang marmer, pemilihan jenis kayu pada rak perpustakaan, hingga desain dewan kuliah yang memungkinkan suara terdengar jernih tanpa pengeras suara, mencerminkan ketelitian seorang genius yang percaya bahwa keindahan visual adalah pintu masuk menuju kebenaran intelektual.

Namun, di balik kemegahan fisiknya, ISTAC menyimpan sebuah “tragedi intelektual” yang sering disebut oleh para pengagumnya sebagai penguburan hidup-hidup sebuah visi besar. Pada masa keemasannya di tahun 90-an, ISTAC adalah pusat gravitasi bagi sarjana Barat dan Timur.
Al-Attas diberikan mandat penuh untuk membangun sebuah institusi mandiri yang tidak terikat oleh belenggu birokrasi kaku. Di sini, ilmu tidak diukur dengan angka-angka Indikator Kinerja Utama (KPI) atau sekadar tumpukan jam kredit. Ilmu diukur melalui kualitas karakter, penguasaan bahasa sumber—baik Arab, Yunani, maupun Latin—serta hubungan spiritual yang erat antara guru dan murid (master-disciple).



















