
Mahasiswa diajak melihat; menjadi modern tidak berarti harus mencampakkan identitas, dan menjadi berilmu berarti harus menjadi beradab.
Saat menyusuri Perpustakaan SMNA yang menyimpan manuskrip-manuskrip nadir koleksi Al-Attas, para mahasiswa menyaksikan bagaimana ilmu dirawat dengan penuh cinta. Mereka belajar bahwa di tangan Al-Attas, Islamisasi ilmu bukan sekadar label, melainkan sebuah dekolonisasi pikiran untuk membersihkan pengaruh-pengaruh sekuler yang merusak tatanan nilai.
Pengalaman berdiri di dewan kuliah yang sunyi namun berwibawa itu menanamkan kesadaran bahwa mereka sedang berada di benteng terakhir pertahanan intelektualisme Islam di Asia Tenggara.
Kini, Sang Penunjuk Jalan telah tiada. Meskipun ISTAC saat ini mungkin hanya dipandang oleh masyarakat awam sebagai bangunan megah yang mirip gereja atau sekadar tempat singgah, bagi mereka yang pernah mencicipi “hidangan” pemikirannya, ISTAC tetaplah kiblat intelektual.
Jejak langkah dosen dan mahasiswa UIN Bukittinggi pada Februari 2024 adalah bukti bahwa cahaya pemikiran Al-Attas telah berpindah tangan.Esai ini adalah penghormatan kecil untuk seorang tokoh yang pergi dengan penuh martabat. Prof. Al-Attas mungkin telah meninggalkan kita secara jasmani, namun visi yang ia tanamkan di Bukit Tunku akan terus bergema dalam setiap diskusi di ruang-ruang kelas di Bukittinggi dan di seluruh dunia Islam.
Kita tidak hanya berduka atas kepergian seorang manusia, melainkan kita merayakan sebuah warisan pemikiran yang akan terus menantang kita untuk menjadi manusia yang beradab di tengah dunia yang kian kehilangan ruhnya.
Selamat jalan, Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Cahaya dari Bukit Tunku itu akan tetap menyala di hati para pencari kebenaran.(*)
Dr. Irwandi Nashir (Dosen UIN Bukittinggi)



















