
Tragedi itu memuncak pada tahun 2002, ketika pisau kebijakan pemerintah melucuti otonomi ISTAC dan menyerapnya ke dalam struktur birokrasi universitas arus utama. Bagi Al-Attas, ini adalah lonceng kematian bagi visi “Insan Kamil” yang ia perjuangkan.
Ilmu pengetahuan yang semula dianggap sebagai “ruh” berubah menjadi sekadar komoditas pasar. Sang profesor, yang membina setiap inci institusi itu dengan keringat dan gagasannya, akhirnya terasing dari ciptaannya sendiri.
Rihlah Akademik UIN Bukittinggi
Kepergiannya baru-baru ini, seolah menjadi penutup dari bab panjang perjuangan seorang intelektual yang enggan tunduk pada pragmatisme zaman.Dalam konteks inilah, ingatan kita ditarik kembali pada sebuah aktivitas mobiliti akademik penting dari Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi.
Pada Februari 2024, hanya dua tahun sebelum kepulangan sang profesor, Rektor UIN Bukittinggi ketika itu Prof.Dr. Ridha Ahida, mengutus dosen dan mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi untuk melakukan sebuah “rihlah ilmiah” ke ISTAC.

Rombongan dosen terdiri dari Prof.Dr.Silfia Hanani (sekarang Rektor UIN Bukittinggi), Prof. Dr. Iiz Izmuddin, Dr. Arman Husni, Dr. Saiful Amin, dan penulis sendiri (Dr.Irwandi Nashir). Delegasi UIN Bukittinggi juga didampingi oleh Presiden Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia (PCMM) Dato’ Ismail, dan juru bicara PCMM, Pak Sam Dimano.
Perjalanan dari kaki Gunung Marapi menuju Bukit Tunku ini kini terasa sebagai sebuah ziarah makna yang krusial, sebuah kontak langsung terakhir bagi dosen UIN Bukittinggi dan generasi muda Bukittinggi dengan sisa-sisa kejayaan visi Al-Attas.
Rihlah tersebut bukan sekadar kunjungan wisata akademik. Bagi mahasiswa UIN Bukittinggi, menjejakkan kaki di ISTAC adalah upaya menyambung kembali “sanad” pemikiran. Bukittinggi, dengan latar belakang sejarah intelektualnya yang kuat melalui tokoh seperti Sjech Muhammad Djamil Djambek, memiliki frekuensi yang sama dengan apa yang diperjuangkan Al-Attas: yakni perlawanan terhadap kejumudan dan upaya melakukan sintesis yang cerdas antara tradisi dan modernitas.



















