Irwandi Nashir: “Nilai Rapor Bukan Sekadar Cetak Biru Takdir”

Berita Daerah941 Dilihat

BUKITTINGGI – Di ruang-ruang kelas, nilai rapor sering kali dianggap sebagai vonis mati. Jika seorang anak gemilang, ia dipuji karena “bakat lahir.” Sebaliknya, jika ia tertatih, pola asuh atau kurikulum sekolah langsung menjadi pesakitan. Padahal, membedah perkembangan anak tak sesederhana memilih antara DNA atau meja belajar.

Dr. Irwandi Nashir, akademisi dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Bukittinggi, yang mencoba mendudukkan kembali perkara ini. Dalam pelatihan bertajuk “Super Teacher, Super Teaching” di SD Islam 67 Al Azhar Bukittinggi, Sabtu pekan lalu (20/12/2025), ia menegaskan, anak adalah produk dari tarian dinamis antara potensi genetik dan lingkungan.

“Gen bukanlah takdir yang kaku. Ia hanya menyediakan kemungkinan,” ujar Irwandi.

Baginya, genetik memang membawa cetak biru—mulai dari temperamen hingga kecenderungan kecerdasan—namun lingkunganlah yang menentukan apakah potensi itu akan mekar atau justru layu sebelum berkembang.

Irwandi menyoroti fenomena “norma reaksi”—sebuah rentang kemungkinan perilaku yang bisa muncul dari satu potensi genetik saat berhadapan dengan lingkungan berbeda. Ia mengambil contoh anak dengan energi meluap. Di kelas yang kaku, anak ini kerap dicap “bermasalah” karena tak bisa diam. Namun, di tangan guru yang tepat, energi itu bisa dikonversi menjadi disiplin atletis atau ketangkasan dalam pembelajaran berbasis proyek.

Masalahnya, sistem pendidikan kita sering kali terjebak dalam pelabelan dini. Cap “nakal” atau “lambat” sering kali menjadi nisan bagi potensi anak, padahal yang bermasalah mungkin bukan genetiknya, melainkan iklim sekolah yang menekan.

“Lingkungan yang minim interaksi bisa mematikan potensi verbal anak, meski secara genetik ia memiliki kapasitas tinggi,” tambah Irwandi.

Menggugat Keseragaman

Pesan dari Bukittinggi ini cukup lugas: pendidikan harus berhenti menjadi pabrik yang menginginkan hasil seragam. Irwandi mendorong pendekatan yang lebih adaptif dan inklusif. Kurikulum dan manajemen sekolah tak boleh lagi dipaksakan secara kaku melalui standardisasi yang mematikan keunikan individu.

Relasi guru-murid, iklim psikologis sekolah, hingga sinergi dengan orang tua adalah variabel yang menentukan bagaimana genetik seorang anak “bekerja.”

Pendidikan yang sensitif terhadap interaksi ini menuntut guru untuk menjadi reflektif, bukan sekadar pelaksana norma yang robotik.

Pada akhirnya, sekolah bukan tempat untuk mengubah kode genetik manusia. Seperti yang ditekankan Irwandi, tugas besar pendidikan adalah memastikan lingkungan yang ada mampu membuat potensi-potensi genetik itu bekerja dalam performa terbaiknya.

Sebab, di sekolah yang baik, tak boleh ada anak yang merasa lahir sebagai produk gagal,” pungkasnya. (IN)

Blibli.com
Blibli.com