
JAKARTA – Kemendikdasmen menegaskan kembali komitmen untuk menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan memanusiakan anak.
Melalui seminar bertema “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dalam Rangka Penguatan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah” yang digelar secara hibrid di Jakarta beberapa waktu lalu, Kemendikdasmen mengajak seluruh elemen pendidikan bergerak bersama membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berempati.
Melalui seminar itu, Kemendikdasmen berharap lahir sebuah gerakan nasional yang tidak hanya menyentuh lingkungan sekolah, tetapi juga memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Dengan dukungan regulasi yang kuat, peningkatan kapasitas pendidik, serta keterlibatan aktif orang tua, pemerintah optimistis setiap anak Indonesia dapat tumbuh dan belajar di ruang yang aman, nyaman, dan benar-benar memanusiakan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan, membangun budaya sekolah aman dan nyaman bukan hanya tentang upaya menjalankan aturan administratif. Lebih dari itu, kebijakan ini merupakan gerakan bersama untuk menghadirkan pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi.
Selain aspek sosial dan emosional, budaya sekolah yang aman juga mencakup dimensi spiritual. Setiap murid perlu merasa bebas menjalankan keyakinannya di lingkungan sekolah tanpa rasa takut ataupun diskriminasi.
Menurutnya, pendidikan karakter lahir dari cara sekolah membangun rasa hormat dan penghargaan terhadap setiap anak. Murid perlu diberi ruang untuk tumbuh sesuai bakat dan minatnya, sementara sekolah hadir untuk mendampingi dan memfasilitasi proses tersebut dengan sebaik-baiknya.
Ia juga menekankan, pendekatan dalam membangun disiplin di sekolah seharusnya tidak bertumpu pada hukuman semata. Guru didorong untuk lebih memahami latar belakang perilaku murid, bukan hanya melihat apa yang tampak di permukaan.
Dalam pandangannya, sekolah yang aman dan nyaman adalah sekolah yang membuat murid merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya.
“Budaya sekolah yang aman dan nyaman bukan soal sanksi, tetapi bagaimana guru dan murid dapat saling mendengar dan saling menguatkan,” ujar Menteri Mu’ti dalam acara yang digelar secara hibrida di Jakarta, Senin (25/5/2026) lalu.(SP)


















