Diplomasi Chip jadi Instrumen Strategis Indonesia di Era AI

Teknologi2452 Dilihat

JAKARTA – Diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis, harus menjadi instrumen geopolitik digital Indonesia di tengah persaingan global pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, dalam Jakarta Geopolitical Forum di Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026) lalu.

Menurutnya, Indonesia perlu memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral kritis sebagai daya tawar untuk memperoleh akses komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur sekaligus memperkuat kapasitas nasional.

“Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur,” tegas Nezar.

Ia menjelaskan Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok teknologi global karena didukung cadangan mineral kritis yang dibutuhkan industri AI dan semikonduktor.

“Kami memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang memberi kami posisi yang kuat dalam rantai pasokan baterai global. Kami adalah produsen kobalt terbesar kedua di dunia, material kunci untuk baterai berkinerja tinggi dan semikonduktor canggih,” ujarnya.

Menurut Nezar, kekayaan mineral tersebut menjadi modal strategis agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu mengambil peran penting dalam ekosistem AI global.

“Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis kami. Hal ini memungkinkan kami untuk melampaui sekadar menjadi konsumen teknologi dan menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI global,” katanya.

Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan AI, Nezar menilai Indonesia perlu menentukan jalur strategisnya sendiri melalui diplomasi digital.

Strategi tersebut didukung empat kekuatan utama, yakni kepemilikan mineral kritis, pasar digital terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta kapasitas komputasi yang perlu diperkuat melalui pengembangan talenta, data, dan industri nasional.

Ia menegaskan, keunggulan suatu negara pada era AI tidak lagi ditentukan oleh siapa yang pertama menemukan teknologi, melainkan oleh kemampuan membangun ekosistem yang mampu mengintegrasikan talenta, komputasi, data, dan industri sehingga AI dapat dimanfaatkan secara luas di berbagai sektor.

Sebagai implementasi strategi tersebut, pemerintah memprioritaskan diplomasi chip, penguatan pasokan energi bagi pusat data, pengembangan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data, serta pengembangan AI yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Indonesia.

Menutup paparannya, Nezar Patria menekankan bahwa keberhasilan Indonesia menjadi kekuatan teknologi strategis menuju Indonesia Emas 2045 bergantung pada konsistensi membangun fondasi digital secara berkelanjutan.

“Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata. Ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, untuk membangun institusi secara bertahap, dan memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia,” pungkas Wamenkomdigi. (infopublik)

Blibli.com
Blibli.com