Salahkah Aku Mencintai Pangeran Diponegoro? Sebuah Effort Mendamaikan Epistemologi Bayyani dan ‘Irfani

Berita Opini197 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Saya terlahir ceprot, bukan di ruang hampa kebudayaan. Melainkan di masyarakat yang secara antropologis disebut keluarga kaum puritan, Muhammadiyah.

Walaupun demikian, saya terhindar dari paradigma letterlijk dalam komunikasi. Terlebih guru SD saya, seorang nahdliyyin tulen. Benturan tradisi puritan dan tradisional saya alami sejak SD. Itu mewarnai cara saya memandang orang beragama, bukan hitam – putih ansich.

Syahdan, itu kemudian membuat saya terkesan pokok dalam Muhammadiyah – NU, atau MuNU. Meminjam pengelompokan kader puritan hasil disertasi doktoral Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan di Sosiologi UGM .

Kemampuan saya mendayung di antara dua kekuatan ormas tadi, mempertemukan saya dengan suasana ilmiah yang dialektis. Selama nyantri dan kuliah. Kalau senjata andalan saya saat itu adalah subjektifitas. Bahwa terbaik itu adalah beragama ala Muhammadiyah. Boleh jadi jadi hari ini saya terkena gangguan mental block. Karena apapun selain dari kultur saya adalah salah.

Itulah yang saya syukuri. Saya tidak terkena mental block . Saya sanggup mensiasati paradigma hitam – putih. Bertemu teman teman NU, saya tidak mentakfiri. Sebatas tahu, tak lebih.

Pertemuan saya dengan mata kuliah ilmu antropologi, filologi, sejarah perbandingan madzhab, dst. Saya syukuri, dan membuat saya sanggup menjalani subjektifikasi sebagai kader Muhammadiya. Sekaligus menjalankan sisi objektifikasi sebagai sesama netizen di NKRI. Yang tak saya lakoni, belum tentu salah. Sesederhana itu saja.

Bertemu Profesor Doktor Dudung Abdurrahman

Bertemu beliau di ruang kuliah membekas dalam alam bawah sadar saya. Beliau adalah kader Muhammadiyah 24 karat yang sanggup menjalani dua dunia. Dunia privatnya adalah menjadi kader Muhammadiyah yang dalam fiqih sesuai apa kata Himpunan Putusan Tarjih.

Menjalani domain publik sebagai dosen yang mengedepankan objektifitas membaca teks. Sebagai kader Muhammadiyah, beliau penasaran dengan esoterisme Islam ala Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah di Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.

Lalu S2 beliau di UGM, membahas esoteris ini, syaratnya harus menyesuaikan diri dengan objek kajian. Untuk inhern-involved, harus log-in atau berbaiat sebagai pengikut Tarekat Naqsabandiyah dan Qadiriyah, sampai kemudian, tesis S2 UGM selesai dengan sempurna. Secara privat, menjadi Muhammadiyah 24 karat. Secara akademis, masuk log-in ke zona esoterisme Islam di tarekat tersebut.

Yang saya tiru dari guru saya itu adalah, tetap bermuhammadiyah tanpa harus membatasi diri. Itu saja.

Nasab Darah Biru Yang Mempengaruhi Corak Pergaulan Pemikiran

Garis ayah biologis saya, kami tersambung ke sosok Hamengkubuwono 2 Jogjakarta, sementara di sisi ibu biologis saya, kami tersambung ke Mangkunegara 1 Solo.

Di dalam tradisi kraton Jawa, tidak dikenal fiqih oriented. Justru kebalikannya, sinkretisme Islam. Sinkretisme Islam itu mengambil jarak dengan jurisprudensi Islam dan mendekati esoterisme Islam.

Secara kultural kelahiran saya, mengajarkan puritanisme Islam. Sedangkan pergaulan sekolah, mengajarkan disiplin ilmu yang mengarah pada epistemologi burhani (ilmu eksakta dan humaniora sosial). Adapun darah yang mengalir di raga saya, termanifestasi dalam sinkretisme Islam.

Menemukan Clue Untuk Bersikap……

Blibli.com
Blibli.com