
WPdotCOM, Jakarta – Dalam melakukan transformasi pendidikan vokasi, Kemdikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) telah mewujudkan beberapa paket kebijakan.
Paket kebijakan itu antara lain terkait kurikulum, project based learning, mendatangkan tiga guru tamu minimal 50 jam per semester per prodi, dan praktek kerja industri minimal satu semester.
Kebijakan selanjutnya adalah, sertifikasi kompetensi bagi lulusan dan guru-guru, pengajar vokasi rutin dilatih oleh industri yang sesuai, riset terapan start from the end dan didasari kebutuhan riil, dan komitmen serapan lulusan oleh DUDI, serta beasiswa ikatan dinas dari DUDI untuk lulusan.
Untuk diketahui, pada 2020 telah dikembangkan 476 SMK Pusat Keunggulan (Center of Excellence) di 34 provinsi dengan total Rp1,2 triliun, dan ratusan program link and match lain. Berdasarkan data terakhir di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) terdapat 7845 bentuk kerja sama antara 2482 SMK dengan 3602 perusahaan.
Dirjen Diksi, Wikan Sakarinto mengatakan, investasi SDM yang unggul adalah persiapan terbaik menuju Indonesia masa depan. Oleh karena itu, sistem pendidikan kita harus mampu mewujudkan SDM unggul.
Kemdikbud terus melakukan upaya memastikan agar link and match antara pendidikan dan pekerjaan dapat terjalin sebaik-baiknya.
Ia menambahkan, lulusan pendidikan vokasi harus kompeten dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Wikan menegaskan, Kemendikbud tidak menghendaki lahirnya lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan DUDI. Kurikulum harus agile dan adaptif terhadap perubahan dan diperkuat melalui internship.
“Ada dua makna link and match. Pertama, kita start at the end, yaitu memulai dengan apa yang dibutuhkan DUDI. Kedua, ayo kita lakukan bersama-sama. Ke depannya, industri harus turut mendidik anak-anak kita,” imbau Dirjen Wikan dalam Sesi “Menuju Indonesia Vocational Outlook 2021 secara virtual, Senin (21/12).
Kebutuhan DUDI yang terus diwujudkan Kemendikbud melalui Ditjen Vokasi berupa lulusan dengan karakter baik, inisiatif, terampil, menguasai bahasa asing, serta memiliki soft skills. Menurut Wikan, pihak DUDI mengaku meski hard skills dibutuhkan, namun melatih hard skills jauh lebih mudah dibandingkan mengasah karakter dan soft skills lulusan.
Dirjen Diksi berharap filosofi pendidikan bukan sekadar muatan yang mengisi pikiran siswa dengan teori, tetapi juga turut menuntun anak-anak bangsa dengan gairah belajar yang menyenangkan, sehingga anak mampu mengembangkan diri secara mandiri dalam dunia dengan teknologi tanpa batas ini.
“Soft skills dan karakternya bagus tercermin dari lulusan yang punya sikap pembelajar mandiri sepanjang hayat,” pungkasnya. (SP)



















