
Kedua daerah kutub yang sebagai lubang koronal kutub, kata dia, juga mengendalikan energi angin matahari dan medan magnet antarplanet yang sampai ke bumi.
“Medan magnet bumi dipengaruhi oleh angin matahari dan medan antarplanet. Fluks momentum angin matahari menentukan ukuran tebal dan tingkat magnetosfer,” ujarnya.
Lebih lanjut Siswanto menyampaikan, kecepatan angin matahari, kekuatan, dan arah medan magnet antarplanet mempengaruhi kopling energi dari angin matahari ke magnetosfer.
Sebagian besar energi ini, lanjut dia, disimpan sementara di magnetosfer untuk akhirnya disimpan di atmosfer atas dalam proses auroral dan arus energi panas.
“Arus-arus ini pada gilirannya menghasilkan medan magnet yang bervariasi waktu yang telah lama terdeteksi di permukaan bumi dan disebut sebagai aktivitas geomagnetik. Banyak indeks telah dikembangkan untuk menandai aktivitas geomagnetik,” ujar Siswanto.
Di sisi lain, kata Siswanto lagi, sunspot minimum matahari saat ini (matahari lockdown), yang dikenal sebagai event SC 24 termasuk yang tidak biasa. Sebab, jumlah sunspot sangat rendah bahkan terendah di 2020 ini.
“GSM sebelumnya telah terjadi pada tahun 1996, 1986, 1976, dan 1966, sehingga siklus terbaru diharapkan mencapai minimum pada tahun 2006, tetapi ternyata terjadi pada tahun 2007, jumlah bintik matahari dan setiap indikator lain dari ‘aktivitas’ matahari terus menurun, hingga 2008, dan hingga pertengahan 2009,” ujar Siswanto. (ist/cnnindonesia)



















