
Dalam kesempatan pertemuan ini, WVI dan Komunitas PRR Lembata yang telah bermitra, langsung membuat planning aksi kemanusiaan di Lembata dengan membuat mitigasi posko-posko yang tersebar di areal 7 (tujuh) kelurahan seputaran Lewoleba, ibu kota kabupaten Lembata .
Ada pun aksi yang sudah dilakukan oleh WVI dalam kemitraan dengan Komunitas PRR Lembata semenjak hari Minggu (6/12), Senin (7/12) dan Selasa (8/12) yakni pembagian masker di beberapa titik pengungsian yang tersebar di rumah-rumah warga dan juga posko pengungsian yang disediakan pemerintah daerah kabupaten Lembata.
Menurut Lusty, data posko yang sudah didatangi tim tanggap darurat WVI dan PRR Lembata dalam aksi pembagian masker yakni di posko Wangatoa yang menampung 200 warga; posko KOPPRAL, dengan alamat Wangatoa, Jalan Tiga menampung 120 KK dengan jumlah 261 warga; posko Ile Ape 128 KK dengan jumlah warga 500 warga.
Lanjutnya, di posko Baopukang di Lamahora yang beralamat di rumah Bapak Sultan Ali Geroda berjumlah 150 warga; di rumah Bapak Leksi Gerong di Wangatoa, belakang Kantor Koperasi Obor Mas Lewoleba berjumlah 70 warga yang merupakan gabungan dari warga desa Atawatung, Waimatan dan Bunga Muda. Posko Batas Kota berjumlah 37 warga. Sedangkan di posko SMP St. Theresia yang menjadi mitra WVI berjumlah 90 KK.

Dalam aksi ini, katanya, WVI bersama mitra telah membagikan 150 box masker kesehatan dengan rincian pendistribusian sebagai berikut. Posko Batas Kota 10 box, posko Ile Ape 40 box, posko KOPPRAL 20 box, posko Wangatoa 15 box, posko Baopukang 15 box, posko Leksi Gerong 10 box dan posko St. Theresia Lamahora 40 box.

Sementara itu, Sr. Maria Domitila, PRR mengapresiasi atas inisiatif WVI untuk bermitra dengan Komunitas PRR Lembata membantu saudara-saudari yang terdampak erupsi Ile Lewotolok. Terima kasih juga untuk sumbangan masker yang diberikan WVI untuk para pegungsi yang saat ini tinggal di ruang-ruang kelas SD dan SMP St. Theresia Lembata, NTT.
Menurut Domitila, pemerintah meminta bantuan sekolah untuk menyiapkan 12 ruangan untuk didiami para pengungsi. “Saya sangat mengapresiasi respon dari bapak ibu, guru baik TK, SD dan SMP dalam bekerja sama membantu melayani memasak, baik pagi, siang maupun malam untuk memberi makan saudara-saudari yang diinapkan di sini (red-SMP St. Theresia),” ungkapnya.



















