oleh

Cyber Bullying dalam Kegiatan Belajar Mengajar Daring

WPdotCOM – Dalam kondisi saat pandemi seperti ini, semua proses pembelajaran mau tidak mau harus beradaptasi dengan sistem daring. Keduanya, sama sulitnya bagi guru dan siswa.

Guru dituntut untuk lebih kreatif dan siswa dituntut untuk memahami apa yang disampaikan guru hanya melalui media. Banyak juga guru yang menggunakan media tatap muka virtual seperti Zoom, Google Meet dan sebagainya. Itu adalah hak masing-masing guru.

Karena melihat kondisi siswa saat itu belum terbiasa , penulis menggunakan media sosial WhatsApp yang familiar di kalangan siswa. Mereka sudah terbiasa menggunakannya.  Materi yang penulis sampaikan, menggunakan power point (ppt) ditambah keterangan dengan voice note (pesan suara). Kemudian di akhir materi ada tugas. Sebelum mengakhiri pembelajaran, tentulah memberikan kesempatan bertanya.

Di kelas, di mana penulis mengajar, ada 3 siswa inklusi yang memerlukan perhatian lebih dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  Pendidikan inklusi adalah sistem layanan pendidikan yang mengatur agar penyandang difabel dapat dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya.

Siswa difabel tidak harus dikhususkan kelasnya. Mereka dapat belajar bersama dengan aksesibilitas yang mendukung untuk semua siswa tanpa terkecuali. Siswa difabel atau sering orang menyebutnya anak berkebutuhan khusus (ABK) meliputi tuna rungu (tuli), tuna netra, tuna daksa, autisme, down syndrome dan sebagainya.

Dan di sinilah kadang muncul perlakuan yang tidak seharusnya terjadi di kalangan siswa. Perundungan (bullying) seolah mendapat tempat di kalangan siswa pada kelas inklusi.

Menurut Safitri (2020), bullying adalah tindakan permusuhan yang dilakukan secara sengaja dengan tujuan untuk menyakiti. Termasuk tindakan terencana maupun spontan, bersifat nyata ataupun tidak terlihat, di hadapan seseorang atau di belakang, mudah diidentifikasi atau terselubung, dan dilakukan oleh seorang atau kelompok.

Sebagai guru harus selalu bijak dalam bersikap. Ada saja ulah siswa secara verbal dalam pembelajaran daring yang bersifat membully. Contohnya saat siswa inklusi bertanya, maka siswa lain akan mengejek, menertawakan pertanyaan tersebut. Sebagai pengajar, penulis sangat berhati-hati untuk menjelaskannya. Sementara pada siswa yang membully selalu penulis tekankan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda, dan setiap manusia diberikan kekurangan dan kelebihan.

Tidak mudah untuk mengatasi bully di pembelajaran daring ini. Bukan persoalan kecil terhadap korban bullying. Ada yang meninggalkan luka mendalam di hati mereka.

Menurut penulis  sebagai pengajar, pendidikan karakter harus disiapkan sejak dini untuk mengatasi sikap dan perilaku negatif seperti ini. Pendidikan baik itu di keluarga, lingkungan, atau pun sekolah, harus memberikan arahan yang tepat dan mengena kepada siswa agar tidak terjadi kasus-kasus bullying.

Tidak bisa hanya dibebankan pada guru saja. Peran orangtua sangatlah besar. Kekerasan yang terjadi di rumah, akan melekat di hati anak-anak dan pastilah akan menirunya.

Penulis : Dian Aryani Susanti H (Guru SMK Negeri 2 Kota Malang)