
Banyak sekali harapan dan cita-cita akan keberadaan SMKN 1 Soreang agar ke depannya lebih baik dan menonjol. “Minimal di Kabupaten Bandung, maksimal Jawa Barat,” tambahnya.
“Waktu awalnya saya masuk ke sekolah ini 3 tahun lalu, jumlah siswanya hanya sekitar 700 san. Tapi setelah saya masuk, tepatnya pada tahun 2018 kami mendapat bantuan Revitalisasi untuk sarana dan prasara serta lainnya, sehingga kami bisa membangun beberapa saranalainnya seperti penambahan RPS, penambahan sarana untuk ruang guru, kantor, ruang praktek TKR, TKJ, penambahan ruang kelas baru.
Selain itu, kami bersama tim juga mengadakan sosialisasi kebeberapa sekolah (SMP) program dan rencana sekolah yang akan datang, dan alhhamdulilah berkat kerja sama team yang solid dari jumlah siswa yang hanya 700 san tersebut bertambah menjadi 1.000 lebih pada saat PPDB tahun berikutnya.
Tapi yang paling utama adalah, saat ini sarana penunjang sekolah kami, kususnya karena kami adalah Sekolah Kejuruan yang paling penting adalah kelengkapan sarana Praktek kejuruan. Karena SMK tersebut untuk kegiatan KBMnya adalah 40/60, 60 praktek 40 tiori atau lebih dikenal dengan BMW. Program BMW atau singkatan dari Bekerja, Melanjutkan, atau Wirausaha, BMW, adalah program pemerintah untuk menjadi solusi bagi lulusan SMK setelah lulus.

“Artinya mereka punya banyak pilihan apakah mereka akan bekerja, melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau berwirausaha,” ujarnya.
Kebetulan untuk tahun ini, kami juga akan mendapat bantuan tambahan sarana Praktek lagi untuk Program Keahlian Elektronika Industri. Bantuan tambahan ruang RPS tersebut pada teknik pelaksanaanya, di sini kami hanya menerima kunci saja. “Pelaksanaan pembangunannya dilaksanakan oleh pihak ke-3 yang langsung di bawah pengawasan pemerintah provinsi. Kami terima beres, alias terima kunci saja”, papar Tatang.
Saat ditanya tentang wacana pemerintah yang akan kembali membuka Pembelaran Tatap Muka (PTM) yang akan di realisasikan pada awal tahun ajaran baru yaitu bulan juni sekarang, Tatang mengatakan pada dasarnya kami setuju sekali.
]Karena untuk saat ini pembelajaran daring masih kurang pas buat daerah terpencil. Banyak kendala yang dihadapi, selain sinyal yang jelek, juga ada tidak semua siswa memiliki gagjed pendukung itu itu.
Jadi intinya kami setuju sekali PTM itu dilaksanakan segera. Namun tentunya dengan melalui Prokes Kesehatan yang ketat, papar Tatang Mengakhiri. (YD)



















