
“Pemangku kepentingan madrasah perlu dilibatkan sejak awal untuk merancang inovasi apa yang tepat dan perlu di masing-masing lembaga. Karena inovasi tak hanya keluar dari person to person. Kerap kali inovasi lahir dari struggle, pergumulan, dan tukar ide yang dinamis di suatu lembaga, antar person,” jelas Mastuki.
Meski demikian, Mastuki mengakui bahwa inovasi seringkali berasal dari seorang leader, pemimpin. Kepala madrasah yang visioner dan bertangan dingin bisa menjadi penggerak dan inspirator sivitas madrasah melakukan inovasi dan akhirnya maju.
“Dari ide, proses, dan kreativitas yang disemaikan pemimpin, menjadi inspirasi dan akhirnya terbentuk visi untuk bersama-sama maju. Seperti pengalaman Kabupaten Banyuwangi ini. Di tangan Bupati yang berpikir inovatif, Banyuwangi yang awalnya kabupaten yang tak diperhitungkan, kini menjadi destinasi wisata unggulan. Bahkan diakui dan dikenal masyarakat Indonesia dan dunia. Itulah kekuatan inovasi,” imbuhnya.
Pelatihan inovasi madrasah digelar di dua lokasi, Banyuwangi dan Yogyakarta. Giat ini dirancang secara tatap muka, benchmarking dengan madrasah yang sudah bagus, penyusunan rencana kerja inovasi, dan pendampingan selama dua bulan untuk memastikan inovasi yang dirancang bersama dapat berjalan semestinya.
Pelatihan dilaksanakan secara luring selama sepekan dari tanggal 17-22 Oktober 2022. Setelah itu implementasi rencana inovasi (action plan) di madrasah selama 2 bulan. Lalu ada pendampingan oleh widyaiswara, pengawas, dan Kanwil Kemenag, serta ahli (expert). (kemenag)



















