
Zuraida meyakini, jika sudah ada perubahan pada guru, maka peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik. Sejauh ini, bersama para guru ia mencoba menerapkan pembinaan berdasarkan hasil asesmen diagnostik. Jadi, ketika ada siswa yang datang terlambat atau tidak masuk sekolah, pihaknya tidak langsung memberi sanksi melainkan diberi pembinaan terlebih dulu.
“Kini, setiap hari Sabtu kami namakan Sabtu Ceria. Di hari itu, anak-anak menuangkan dan menceritakan apa saja yang mereka baca dari Senin sampai Jumat,” tutur Zuraida yang juga memberi kebebasan peserta didiknya untuk belajar di luar kelas.
Perubahan lain yang dilakukan adalah memastikan agar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dapat dijalankan dengan baik. Salah satunya adalah dengan membuat sebuah koperasi siswa. Tak hanya itu, ia juga berencana untuk membuat kesepakatan dengan komunitas Rumah Kreatif di Pekanbaru untuk memanfaatkan barang-barang bekas.
Hal lain yang coba diterapkan Zuraida adalah membangun kolaborasi dengan banyak pihak guna meningkatkan mutu pembelajaran sekolahnya sendiri maupun sekolah lain di sekitarnya.
Sejauh ini, Zuraida merupakan satu-satunya kepala sekolah dari SMP Negeri se-Pekanbaru yang memiliki sertifikat Guru Penggerak dan Asesor Sekolah Penggerak. Oleh karena itu, ada tanggung jawab baginya untuk memotivasi rekan-rekan di sekolah lain agar tidak terpaku di zona nyaman.
Meskipun ia menyadari bahwa tidak semua orang bisa menerima perubahan dan ajakan untuk berubah. Oleh karena itu, ia sangat bersyukur karena Kemendikbudristek menyediakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai inspirasi untuk saling berbagi model pembelajaran dan memulai langkah perubahan.
“Sejauh ini, saya sudah turun ke lapangan sebagai narasumber sampai ke beberapa kecamatan di Provinsi Riau. Alhamdulillah, Dinas Pendidikan mendukung,” ujarnya. (kemdikbud)



















