Mewakafkan Diri untuk Muhammadiyah, Ungkapan Sederhana Makna Luar Biasa

Berita Opini1322 Dilihat

DALAM sebuah forum resmi Muhammadiyah, terdengar ungkapan yang sederhana namun sarat makna dari seorang tokoh yang sedang berpidato, “Saya siap mewakafkan diri demi Muhammadiyah.”

Sepintas terdengar seperti kalimat biasa. Namun sesungguhnya menyimpan tekad dan komitmen yang mendalam. Ungkapan ini mencerminkan kesiapan total seseorang untuk menyerahkan jiwa, raga, dan hartanya demi perjuangan dalam jalan dakwah dan amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah.

Mewakafkan diri bukan sekadar slogan manis yang dilantunkan dalam forum-forum resmi. Ia adalah wujud nyata dari jihad personal, perjuangan tanpa pamrih demi kemajuan umat dan bangsa melalui wadah Muhammadiyah. Di dalamnya terkandung semangat pengorbanan, keikhlasan, dan keteladanan dalam menunaikan tugas dakwah dan tajdid.

Allah SWT berfirman dalam Surah As-Shaff ayat 10–11:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (QS. As-Shaff: 10–11).

Ayat ini memberikan inspirasi yang kuat bahwa perjuangan di jalan Allah, termasuk dalam bentuk pengabdian di Muhammadiyah, adalah investasi abadi yang lebih mulia daripada perniagaan duniawi mana pun. Ketika seseorang mewakafkan diri, ia sedang menjalani “perniagaan” yang dijanjikan Allah: keselamatan dari azab dan keridhaan-Nya.

Namun, penting untuk diingat, jangan sampai ungkapan ini hanya menjadi jargon tanpa ruh. Sebab tanpa disertai semangat dan daya juang yang nyata, makna luhur dari mewakafkan diri akan kehilangan nilai spiritual dan historisnya. Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, ia adalah gerakan pembaruan Islam yang telah terbukti melahirkan perubahan besar melalui kerja-kerja nyata para kadernya yang benar-benar ‘mewakafkan diri’.

Oleh karena itu, mari kita maknai ungkapan tersebut dengan penuh kesungguhan. Bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam aksi, dedikasi, dan keteladanan. Sebab Muhammadiyah membutuhkan bukan hanya mereka yang hadir di forum, tetapi mereka yang benar-benar hadir dalam kerja dan perjuangan.(*)

Penulis: Kasman

Blibli.com
Blibli.com