Sang Guru Mekah: Dua Pilar Islam Nusantara Bersinar

Berita Opini3978 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Di sudut suci Masjidil Haram, di jantung Mekah akhir abad ke-19, sebuah halaqah kecil menyimpan cerita besar.

Di sana, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menorehkan jejaknya pada dua pemuda dari Nusantara: Muhammad Darwis, yang kelak menjadi KH Ahmad Dahlan, dan KH Hasyim Asy’ari. Dari satu guru lahirlah dua arah pembaharuan Islam Indonesia—satu modernis, satu tradisionalis—yang sama-sama mengubah wajah peradaban.

Putra Minangkabau ini bukan guru biasa. Dengan disiplin tinggi dan ketajaman kritis, Syekh Ahmad Khatib menegakkan mazhab Syafi’i sekaligus mengajak murid-muridnya menafsir ulang praktik yang menyimpang. Dari matrilineal Minang hingga beberapa praktik tarekat, ia bersuara lantang: keilmuan harus menuntun umat, bukan sekadar tradisi.

Kisah Menarik di Halaqah Mekah

Diceritakan bahwa dalam sebuah pelajaran fikih, Syekh Ahmad Khatib pernah menantang para muridnya untuk menguji kemampuan mereka secara praktis. Ia meminta setiap santri menghitung arah kiblat dengan matahari, bukan hanya buku.

Muhammad Darwis yang teliti berhasil menemukan koreksi kecil namun signifikan, sementara Hasyim Asy’ari memeriksa dengan cara yang lebih sistematis, memastikan semua perhitungan konsisten dengan teks klasik. Dari momen itu, terlihat karakter mereka: Darwis cenderung praktis dan solutif, Asy’ari fokus pada ketelitian dan kedalaman tradisi. Menurut arsip Masjidil Haram, dari halaqah itu lahir sekitar 30-40 pelajar Nusantara yang kembali membawa ilmu langsung ke tanah air, menandai mekarnya intelektual Islam Indonesia.

Ahmad Dahlan: Praktis, Solutif, Pembaharu

Muhammad Darwis datang ke Mekah dengan semangat muda. Dari sang guru, ia menyerap: 1) Purifikasi dan Pembaharuan: Kembali pada Al-Qur’an dan Hadis, menolak bid’ah, takhayul, dan praktik yang menyimpang. 2) Ilmu untuk Umat: Penguasaan Ilmu Falak bukan sekadar teori, tapi diterapkan untuk kepentingan umat—seperti koreksi arah kiblat masjid.

Melalui metode ijtihad dan semangat purifikasi, Ahmad Dahlan menyalurkan energi itu menjadi Muhammadiyah: gerakan sosial-keagamaan modern, terstruktur, dan penuh aksi nyata.

Hasyim Asy’ari: Kokoh dalam Tradisi

Di halaqah yang sama, Hasyim Asy’ari membangun fondasi kokoh. Dari sang guru, ia memperoleh: 1) Kedalaman Fikih:Pondasi ilmiah yang kuat untuk pesantren, memastikan tradisi tetap hidup tapi berbasis ilmu. 2) Semangat Perlawanan: Inspirasi anti-kolonial yang kelak meletup dalam Resolusi Jihad 1945.

Hasyim Asy’ari tidak menolak tradisi; ia memperkuatnya dengan kecermatan ilmu klasik dan dedikasi pada masyarakat pesantren.

Dua Sungai dari Satu Mata Air

Satu guru, dua arah pembaharuan. Ahmad Dahlan mengalirkan sungai modernis—pemurnian, amal sosial, organisasi. Hasyim Asy’ari menyalurkan sungai tradisionalis—keilmuan kokoh, pemberdayaan komunitas, pelestarian warisan pesantren.

Dari Mekah, mata air keilmuan itu mengalir ke Nusantara. Dua arus berbeda, namun sama-sama vital. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk disyukuri sebagai kekayaan intelektual bangsa.

Di peringatan Hari Guru tahun ini, jejak mereka mengingatkan kita: guru sejati tidak mencetak salinan, tapi menyalakan potensi.(*)

Penulis: Mukti Ali (Pengawas Pendidikan di Kementerian Agama Kota Payakumbuh)

Blibli.com
Blibli.com