
Allah Ta’ala memperingatkan bahaya kesia-siaan ini dalam Surah Al-Isra’ ayat 27: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Allah Ta’ala. Dalam menjelaskan tentang pemborosan (tabdzir), Ibnu Katsir dalam tafsirnya tidak hanya mengaitkannya terbatas pada harta, melainkan segala bentuk pengerahan tenaga untuk hal yang tidak membawa manfaat bagi orang banyak.
Sesuatu yang sia-sia adalah celah bagi syaitan untuk menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya. Sebaliknya, malabihi ancak-ancak adalah perwujudan dari derajat Ihsan. Islam menuntut “kelebihan” kualitas dalam setiap pengabdian.
Perhatikan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Syaddad bin Aus Radhiyallaahu ‘anhu: Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka berlakulah baik dalam membunuh… Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (Hadits Riwayat Muslim).
Jika dalam urusan menyembelih saja kita diperintahkan untuk “melebihkan kebaikan” dengan menajamkan pisau agar tidak menyiksa, maka dalam seluruh aspek kehidupan, kita dituntut memberikan standar ancak (bagus) yang melampaui standar paling rendah sekalipun.
Dalam ranah pribadi, pesan berhikmah ini mengajak kita melakukan pembenahan diri. Masalah mendasar manusia hari ini adalah ketidakmampuan membedakan antara “sibuk” dan “bermanfaat”. Banyak orang merasa lelah bekerja, padahal mereka hanya berkutat pada hal-hal “sio-sio” (sia-sia) yang tidak mendasar.
Solusinya adalah disiplin untuk membuang kebisingan batin dan memfokuskan potensi pada karya yang bermutu tinggi.
Dalam rumah tangga, pertikaian sering kali berakar pada sikap “serba cukup”. Seorang pasangan yang hanya menjalankan tugas resmi tanpa memberi sentuhan kasih sayang yang lebih, akan menciptakan keluarga yang hambar. “Malabihi ancak-ancak” dalam keluarga berarti memberikan perhatian lebih, kata-kata yang lebih santun, dan pengabdian yang melampaui sekadar kewajiban di atas kertas.



















