
Pada tatanan bermasyarakat dan berbangsa, prinsip ini menjadi kritik sekaligus solusi bagi penyakit tata kelola pemerintahan. Kita sering melihat “proyek sio-sio”(kegiatan tak bermanfaat) yang menguras anggaran negara namun miskin manfaat. Jika pemimpin memegang teguh mangurangi sio-sio, maka pemborosan akan terkikis. Namun, saat melayani rakyat, mereka harus malabihi ancak-ancak: memberikan pelayanan yang lebih cepat, lebih ramah, dan lebih adil dari yang dijanjikan.
Menuju Peradaban yang Beradab
Menerapkan falsafah ini berarti membunuh mentalitas “asal jadi”. Ia mengajarkan bahwa menjadi orang baik saja tidak cukup sebab kita harus menjadi manusia yang “berlebih” dalam memberi manfaat.
Jika Anda seorang guru, jangan hanya mengajar sesuai jam pelajaran tapi lebihkan dengan inspirasi. Jika Anda seorang pejabat, jangan hanya tidak mencuri uang rakyat, namun lebihkan dengan pengabdian yang melampaui harapan rakyat.
Falsafah Minangkabau ini adalah sebuah seni menimbang rasa. Ia mendidik kita untuk tidak menjadi manusia yang “pas-pasan”, melainkan manusia yang selalu menyisakan kebaikan lebih dalam setiap jejak langkahnya.
Pada akhirnya, mangurangi sio-sio, malabihi ancak-ancak adalah jalan menuju kemuliaan. Memangkas yang sia-sia adalah cara kita menghormati sisa umur, dan melebihkan yang baik adalah cara kita mencintai Sang Pencipta.
Di akhir perjalanan nanti, kita tidak akan ditanya seberapa sibuk kita, melainkan seberapa bermutu manfaat yang kita tebarkan bagi sesama. (*)
Penulis: Dr. Irwandi Nashir (Dosen UIN Bukittinggi dan Pegiat Literasi Falsafah Minangkabau)



















