Silek Tradisi di Sekolah, Program Unggulan Sumbar yang Perlu Keseriusan

Berita Opini10529 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Menyikapi program Pemerintah Provinsi Sumatra Barat melalui Dinas Pendidikan terkait Silek Tradisi Minangkabau Masuk Sekolah, menjadi langkah penting bagi kelangsungan upaya pelestarian budaya asli daerah.

Silek Tradisi, diketahui sebagai salah satu khazanah budaya Minangkabau yang sejak dulunya menjadi kebanggaan generasi secara turun-temurun. Budaya yang diajarkan pada sasaran-sasaran silek itu, diyakini sebagai bagian dari program menjembatani pendidikan karakter kaum muda, selain sebagai usaha memperkuat jatidiri.

Silek Tradisi, bukan hanya sekadar tontonan yang diperagakan ketika seremonial di nagari-nagari yang ada. Silek menjadi bagian penting tak terpisahkan dari didikan surau masa lalu, yang kini kembali digalakkan melalui program silek masuk sekolah.

Bila dilihat secara kasat mata, peragaan silek tradisi sangat berbeda dengan atraksi-atraksi pencak silat dalam kegiatan seremonial yang pernah kita saksikan. Pencak silat mengedepankan gerakan adu pukul, saling serang, tangkis-menangkis, jatuh-menjatuhkan. Sementara silek tradisi, bila ditampilkan, akan terlihat layaknya tarian.

Memang, silek dan pencak silat jauh berbeda. Silek bukanlah pencak silat, begitu sebaliknya. Dalam gerakan silek tradisi, gerakannya dimainkan dengan kelembutan, selayaknya memainkan tarian. Karena sejatinya, silek adalah keindahan yang mematikan.

Disebut mematikan, kiranya bukanlah sesuatu yang berlebihan. Karena konsep dasar silek, adalah bentuk pertahanan yang sempurna. Silek tradisi tidak mengenal langkah mati, tidak mengenal kata ‘terkunci’ dan hal lain yang ada dalam pencak silat.

Silek tradisi merupakan bentuk kepiawaian dalam mempertahankan diri dari segala bentuk keadaan di luar diri. Dikunci tetap akan bisa melepaskan diri, dikurung tidak akan mati langkah. Begitu luasnya pemahaman pertahanan dalam silek tradisi ini.

Program Silek Tradisi Masuk Sekolah, kiranya dipandang sebagai upaya nyata untuk mengembalikan pemahaman dasar tentang budaya yang satu ini. Walaupun pada nyatanya, diakui bahwa membelajarkan generasi tentang silek tradisi bukanlah sesuatu yang mudah, namun tidak mustahil bila yang dituju adalah kemahiran tentang pemahaman dasar-dasar filosofisnya.

Upaya pemerintah Sumbar, dalam hal ini yang digawangi oleh Dinas Pendidikan, pun diharapkan bukan hanya sekadar program tanpa kesinambungan. Pembelajaran silek tradisi di sekolah, dipandang sebagai program yang harus berkelanjutan melalui segala bentuk kebersamaan yang ada, baik yang berkaitan dengan kepelatihan, kurikulum, dan yang terpenting adalah ketersediaan pembiayaannya.

Pada sisi kepelatihan, turut diharapkan adanya kesatuan paradigma dan konsep yang jelas. Karena di Miangkabau, aliran silek tradisi sangat banyak. Hal ini tentunya akan menjadi jurang pembeda bila tidak diakali dengan kurikulum yang terukur. Kurikulum pembelajaran menjadi kunci dari semua itu.

Khusus pada pembiayaan, bila saat ini di awal-awal program berjalan, Dana BOS menjadi sumber utama yang harus menanggung beban pengeluarannya, ke depan mungkin perlu dibicarakan di tingkat pemangku kepentingan agar dapat disisipkan dalam pagu anggaran Dinas Pendidikan pada APBD Provinsi Sumbar.

Dengan demikian, salah satu program terbaik ini tetap menjadi unggulan dan terus berkelanjutan tanpa jeda. (*)

Nova Indra (Direktur P3SDM Melati, Jurnalis, Penulis Buku Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minangkabau)

Blibli.com
Blibli.com