Kenapa Agama Seakan Tidak Berdampak?

Berita Opini2655 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – “Kenapa agama tidak berdampak?” Tanya seorang tokoh dalam diskusi lepas di sebuah warung kopi.

Pertanyaan itu meluncur sederhana, tapi menghantam keras. Apalagi yang duduk di warung  bukan orang sembarangan. Mereka adalah para tokoh yang hampir tiap hari nongkrong di tempat itu, membicarakan apa saja: sosial, politik, hukum, hingga nasib negeri.

Pertanyaan itu segera menghangatkan suasana. Sebab realitas di sekitar seolah membenarkannya. Suap menjadi-jadi di hampir semua lapisan masyarakat. Korupsi merajalela, dari pusat hingga daerah.

Bahkan, fatwa ulama kerap terdengar nyaring di mimbar, namun lirih dalam praktik kehidupan.

“Bukankah agama itu soal moralitas?” lanjutnya.

“Lalu kenapa negara sebagai pemegang otoritas kekuasaan seakan tak berdaya memberantas suap dan korupsi? Sementara suara ulama dan tokoh agama makin jarang didengar oleh umatnya sendiri?”

“Tentu saja demikian adanya,” jawab seorang tokoh lain yang dikenal kritis dan rajin hadir dalam diskusi-diskusi warkop itu.

“Ulama dan tokoh agama memang tidak punya alat pemaksa. Mereka tidak memiliki instrumen kekuasaan. Yang mereka punya hanyalah suara di mimbar, di ruang dakwah, di forum-forum pengajian. Soal apakah suara itu didengar dan ditaati, itu perkara lain.”

Ia berhenti sejenak, lalu melempar pertanyaan balik, “Kalau begitu, kenapa umat justru merasa nyaman menerima suap atau amplop yang dibagi-bagi politisi saat pemilu?”

“Karena masalahnya tidak tunggal,” sela tokoh lain.

“Ada faktor kemiskinan ekonomi, perut lapar sering kali mengalahkan idealisme. Ada kemiskinan ilmu, ketidaktahuan membuat orang sulit membedakan mana hak dan mana suap. Ada kemiskinan mental-mental instan, pragmatis, dan permisif. Bahkan ada kemiskinan moral yang dibungkus dengan dalih ‘sekadar rezeki’.”

Diskusi semakin hangat. Kopi terus diseruput. Kesimpulan pelan-pelan mengerucut: agama sebenarnya tidak kehilangan ajaran, yang hilang adalah daya paksa moralnya dalam kehidupan sosial dan politik. Agama sering berhenti sebagai simbol, slogan, dan ritual belum sepenuhnya menjelma menjadi etika publik dan sistem yang mengikat.

Ketika negara lemah dalam penegakan hukum, dan masyarakat kompromistis terhadap pelanggaran, agama pun terjebak menjadi nasihat tanpa kekuatan. Ia benar secara moral, tapi kalah oleh sistem yang rusak dan kebutuhan hidup yang mendesak.

Mentari pagi kian meninggi dan diskusi pun mereda. Tak ada jawaban final di warung kopi itu. Namun satu hal terasa jelas: agama tidak kekurangan kebenaran, yang kurang adalah keberanian kolektif untuk menjadikannya pedoman hidup bukan sekadar bahan diskusi.(Ditulis oleh: Kasman, pegiat sosial di Kota Sungai Penuh)

Blibli.com
Blibli.com