Peletakan Batu Pertama Monumen Gempa, Puncak Refleksi Satu Abad Gempa Sianok-Sumani

Berita Daerah430 Dilihat

PADANG PANJANG – Rangkaian kegiatan refleksi Satu Abad Gempa Sianok-Sumani (Gempa Padang Panjang) 1926, dipuncaki dengan peletakan batu pertama pembangunan monumen gempa di Padang Panjang.

Kegiatan peletakan batu pertama itu, dilakukan oleh Walikota Padang Panjang Hendri Arnis diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, I Putu Venda, S.STP, M.Si, bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat, Sabtu (27/6/026) di komplek Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).

“Kita bersama hadir di sini, dalam rangkaian mengenang 100 tahun gempa bui yang terjadi di Kota Padang Panjang dalam betuk pembangunan monumen gempa,” ucap Venda membuka sambutan kegiatan tersebut.

Dikatakan birokrat kawakan di Kota Serambi Mekah itu, “Hari ini telah dilaksanakan peletakan batu pertama bersama Forkopimda dan para inisiator, untuk mengenang gempa yang terjadi di Padang Panjang 1926.”

“Mudah-mudahan monumen ini dapat terbangun sesuai rencana menjadi suatu monumen yang dapat dilihat dan dikenang oleh masyarakat Padang Panjang, dalam rangka membangun Kota Tangguh Bencana,” ujar Venda.

Disebutkan Venda, pihak Pemko Padang Panjang berharap, pembangunan monumen gempa itu, akan dibangun secara swadaya oleh lembaga-lembaga inisiator.

“Kita berharap, pembangunan monumen ini nantinya, akan dilakukan oleh lembaga inisiator hingga selesai,” ujar Venda.

Geo-Tracking Patahan Sumatra

Peletakan batu pertama yang dilakukan Pemko setempat itu, turut pula dihadiri oleh rombongan Tour de Patahan Sumatra.

Tour yang melewati jalur Geo-Tracking dari Ngarai Sianok Bukittinggi hingga Tanah Datar tersebut, menjadi bagian dari rangkaian Satu Abad Gempa Padang Panjang yag digagas oleh lembaga inisiator.

Dekan Fakultas Sains Teknologi dan Pendidikan Universitas Tamansiswa Padang Dr. Osronita, menyampaikan, jalur geo-tracking yang digawangi oleh lembaganya itu, merupakan salah satu nilai penting bagi daerah termasuk Kota Padang Panjang dalam menyikapi mitigasi bencana.

“Geo-Tracking ini, sepanjang kurang lebih 55 kilometer, merupakan bagian dari upaya menghidupsuburkan pemahaman masyarakat dan daerah dalam mitigasi bencana. Kita tidak bisa menghindar dari kondisi alam yang ada, tapi kita harus mampu menciptakan harmonisasi yang tepat dengan alam,” sebut akademisi yang intens berkegiatan di bidang edukasi warga tersebut.

Dikatakan Osronita, persoalan patahan lempeng bumi yang ada di Sumatra Barat, tidak perlu ditakuti.

“Tagline yang kita serukan saat ini adalah, Living in Harmony in the Heart of the Great Sumatran Fault. Saatnya kita bersisian dengan kondisi alam dan tetap survive,” tegas tokoh pendidik itu.

Dilanjutkannya, mengenai titik-titik geosite sepanjang jalur geo-tracking tersebut, kini pihaknya bersama sejumlah inisiator seperti BMKG, Alpha Rescue, dan Patahan Sumatra Institute, tengah menyiapkan langkah berikutnya.

“Kita sedang persiapkan langkah lanjutan dari pembangunan monumen di tiap titik yang telah ditentukan. Dan sebagai langkah awal, kita sudah bicarakan dengan kepala daerah yang ada,” jelasnya. (*)

Blibli.com
Blibli.com