Kembali ke Buku Cetak dan Tulisan Tangan

Berita Opini2050 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Sebuah fenomena menarik di era digital kini terjadi ketika banyak negara maju justru menggalakkan kembali ke buku cetak, dan menulis dengan tulisan tangan (hand writing).

Hal tersebut ditandai melalui kebijakan pendidikan (educational policy ) yang mengedepankan keterampilan membaca melalui buku cetak dan menulis langsung dengan tulisan tangan. Tentu saja fenomena ini menarik manakala disandingkan dengan apa yang terjadi saat ini di Indonesia, misalnya, yang tengah mengunggulkan program segala ‘e_’ mulai dari e-banking, e-absensi, hingga e-book, dan lainnya.

Mari kita intip dulu apa yang terjadi di negara-negara maju seperti Jepang, Finlandia, dan beberapa negara Eropa sekaitan gerakan kembali membaca buku cetak dan menulis tangan ini. Ternyata, di negara-negara itu kembali ke buku cetak dan tulisan tangan dalam proses pembelajaran bukan lagi trend, tapi kebutuhan.

Keputusan kembali ke buku cetak dan tulisan tangan di tengah pusaran  teknologi digital, diambil karena banyak riset menunjukkan bahwa membaca dengan menyentuh fisik buku dapat meningkatkan pemahaman dan daya ingat yang lebih baik dibandingkan dengan membaca melalui layar. Karena itu, anak-anak didorong untuk membaca buku cetak lebih banyak. Hal ini, selain dapat meningkatkan kemampuan literasi, buku cetak juga mendukung perkembangan imajinasi dan kreativitas pelajar.

Hal yang sama juga terjadi untuk aktivitas menulis dengan tulisan tangan. Kesannya sederhana, tapi ternyata menulis dengan tulisan tangan berdampak terhadap peningkatan kemampuan belajar para pelajar. Menulis dengan tulisan tangan juga efektif dalam peningkatan pemahaman materi, daya ingat, daya nalar, dan berpikir kritis. Hal ini dipicu oleh otak yang terus bekerja untuk menemukan kata yang tepat dan merangkainya kata menjadi kalimat.

Apa kabar Indonesia?

Trend kembali ke buku cetak dan menulis dengan tulisan tangan di negara maju tentu  hawanya pasti menjalar pula ke Indonesia. Banyak dosen saat ini yang menugaskan mahasiswa membaca dengan menyentuh fisik buku, dan membuat tugas dengan tulisan tangan.

Saat kebijakan pendidikan di Indonesia menggencarkan penggunaan buku digital di sekolah, tiba-tiba di negara maju kebijakan seperti itu tak lagi populer.

Di Indonesia, minat terhadap buku cetak menunjukkan gejala penurunan. Ini berbeda dengan minat pada buku-buku digital. Namun, pada saat yang sama kondisi ini belum sepenuhnya didukung oleh infrastruktur teknologi yang memadai.

Akibatnya, lahirlah kebijakan pendidikan yang separo matang dan tiap sebentar berubah. Ironinya, muncul pula ketimpangan pada mutu pendidikan antara kota dan desa. Pembelajaran di kota-kota besar sudah diintegrasikan dengan media digital karena dukung infrastruktur teknologi. Fenomena ini bertolak belakang dengan jutaan pelajar yang belajar di daerah minus sarana teknologi.

Ikhtiar membawa Indonesia ke arah yang lebih maju dalam sektor pendidikan menuntut sikap konsisten dalam menerapkan kebijakan.Selain evaluasi yang matang, kita mesti menjadikan buku cetak dan menulis dengan tulisan tangan sebagai pondasi membantu kecakapan literasi.

Kemajuan tak sepenuhnya bergantung pada teknologi, namun juga pada aspek dasar seperti buku cetak dan kemampuan menulis dengan tulisan tangan. (*)
Penulis: Dr. Irwandi (Dosen UIN Bukittinggi, email: irwandi@uinbukittinggi.ac.id)

Blibli.com
Blibli.com