Apel Akbar Guru Muhammadiyah: Menjemput Martabat dari Rahim Sejarah Lima Puluh Kota

Peristiwa7438 Dilihat

LIMA PULUH KOTA – Aula PPM Al Kautsar Muhammadiyah Sarilamak hari itu bukan sekadar saksi bisu sebuah seremoni. Di sanalah, 212 pasang mata guru dan kepala sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Lima Puluh Kota berkumpul, Sabtu akhir pekan lalu, membawa misi besar, yaitu merawat nalar dan martabat di tanah yang pernah menyelamatkan Republik.

Ada getaran yang berbeda saat Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, SH, berdiri di podium. Di hadapan para pendidik, ia tidak sekadar bicara soal birokrasi, melainkan memanggil kembali memori kolektif bangsa. “Daerah kita punya catatan sejarah yang sangat panjang dan penting,” ujarnya retoris.

Ia mengingatkan hadirin pada fragmen medio 1948, saat Syafrudin Prawiranegara bergerilya di rimba Lima Puluh Kota untuk menyuarakan kepada dunia bahwa Indonesia masih berdiri tegak melalui radio.

Semangat “menyelamatkan nasib bangsa” itulah yang coba direlevansikan dalam konteks pendidikan hari ini. Lewat slogan “Lima Puluh Kota Bermartabat”, Pemerintah Daerah menitipkan harapan besar pada pundak para guru Muhammadiyah. Sebab, martabat sebuah bangsa tak hanya lahir dari sejarah masa lalu, tapi dari kualitas manusia yang dicetak di ruang-ruang kelas saat ini.

Perayaan Seabad dan Formasi “Tim Khusus”

Apel Akbar ini bukan tanpa alasan. Destamal, sang Ketua Panitia, menjelaskan bahwa perhelatan ini merupakan bagian dari perayaan Milad 1 Abad Muhammadiyah di Minangkabau. Dengan tema “Guru Muhammadiyah Hebat, Lima Puluh Kota Bermartabat”, acara ini menjadi ajang konsolidasi besar-besaran antara praktisi pendidikan dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah serta Majelis Dikdasmen.

Namun, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lima Puluh Kota tak ingin berhenti pada euforia perayaan semata. Alpa Edison, Wakil Ketua PDM Lima Puluh Kota, membawa kabar segar yang progresif.

PDM periode ini telah mengarsiteki sebuah “tim khusus, semacam pasukan elit pendidikan yang terdiri dari para pensiunan kepala sekolah berprestasi, pengawas kawakan, hingga praktisi berpengalaman.Tugas mereka nyata, yaitu “turun gunung” mendampingi madrasah dan sekolah untuk menata tata kelola menuju institusi yang unggul dan kompetitif.

“Kami ingin menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki karakter yang mampu menjadi teladan di mana pun mereka berada,” tegas Alpa.

Mencari Sosok Guru Idola

Momentum Apel Akbar ini juga menjadi titik awal perburuan sosok-sosok inspiratif. Tim khusus yang dibentuk PDM diberi amanah tambahan untuk memotret dedikasi di lapangan. Penghargaan tak lagi hanya soal angka, tapi soal dampak.

Sekolah dengan akreditasi “A”, lembaga dengan grafik peminat (PPDB) yang terus menanjak, hingga kepala sekolah yang bertangan dingin dalam membawa perubahan, semuanya masuk dalam radar apresiasi. Tak ketinggalan, para guru yang bergerak dalam senyap, yaitu mereka yang kreatif, inovatif, disiplin, dan menjadi “idola” bagi murid-muridnya karena kemuliaan akhlak akan mendapatkan panggung kehormatan tahun ini.

Dukungan pun mengalir deras dari berbagai pihak, mulai dari BAZNAS Lima Puluh Kota hingga sektor perbankan seperti BSI KCP Pangkalan Tanjung Pati dan Bank Nagari.

Kehadiran tokoh-tokoh seperti Wakil Ketua PWM Sumbar Ki Jal Atri Tanjung, serta narasumber Dr. Irwandi Nasir dan Buya Desembri Chaniago, semakin mempertegas bahwa urusan mendidik manusia adalah kerja kolosal yang butuh kebersamaan.

Hari itu, di Sarilamak, para guru pulang tidak hanya membawa kenangan apel, tapi membawa api semangat yang sama dengan para pejuang kemerdekaan dulu, yaitu  di tangan mereka, martabat Lima Puluh Kota dan Indonesia dipertaruhkan.(IN)

Blibli.com
Blibli.com