oleh

Pendiri GSM: Blended Learning, Reformasi Pola Pendidikan di Era New Normal

WPdotCOM, Jakarta — Beberapa waktu lalu, Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menyampaikan, tidak ada manfaat memundurkan tahun ajaran baru ke Januari 2021.

Hal tersebut diungkapkannya karena tidak ada jaminan pandemi akan berhenti dan vaksin ditemukan menjelang akhir 2020 ini.

“Tidak ada jaminan pandemi ini akan berhenti. Vaksin yang ditemukan dan diujicobakan ke manusia hingga tahapan digandakan atau replikasi hingga miliaran untuk didistribusikan ke seluruh negara, akan membutuhkan waktu hingga 1-2 tahun lamanya. Jadi, pengunduran tidak akan menjamin anak-anak kita bebas dari Covid-19,” jelas Rizal seperti dilansir Kompas.com.

Menurut Rizal, yang perlu dipikirkan adalah segera menyiapkan konsep dasar serta pelaksanaan “kurikulum ketahanan diri” yang terdiri atas ketahanan fisik, mental, dan sosial. Hal tersebut menjadi sangat penting karena anak-anak perlu beradaptasi hidup di suasana yang berbeda dari biasanya.

“Orientasi kurikulumnya bukan tentang penguasaan materi saja seperti selama ini dilakukan. Melainkan lebih berorientasi membangun ekologi sosial yang mengoneksikan ilmu pengetahuan, kebutuhan keluarga, dan persoalan di kehidupan nyata. Bahkan untuk tingkat SMA hingga perguruan tinggi, lebih berbasis riset-riset dasar untuk membantu melawan wabah Corona ini,” imbuhnya.

Ia berpendapat sebelum pemerintah menentukan keputusan terkait kelanjutan pendidikan ini perlu dilakukan survei ke masyarakat. Dikhawatirkan kampanye pemerintah tentang kenormalan baru akan kehilangan momentum. Para pendidik dan anak-anak justru kebingungan untuk membudayakan aktivitas pendidikan dengan kenormalan baru.

“Pendidikan dengan tatanan baru adalah blended learning, yakni mengintegrasikan pembelajaran tatap muka, online serta praktik problem solving. Tentunya hal ini dilakukan dengan proses yang bertahap.

Menurutnya, di periode Juli-Desember 2020, pembelajaran tatap muka tak perlu dilakukan. Selain untuk menghindari munculnya klaster baru Covid-19 di sekolah, masyarakat masih berproses menuju kehidupan persekolahan dengan tatanan baru.

Di periode hingga akhir tahun ini kata Rizal lagi, pemerintah perlu menyiapkan konsep dan pelaksanaan new normal education ke blended learning yang mungkin akan dimulai di awal ajaran baru 2021. Bisa saja di tahun depan, proses tatap muka dilaksanakan 50 persen-60 persen dan online learning 40 persen-50 persen.

Ia mengimbau materi pembelajaran dapat lebih diarahkan ke penumbuhan life skills, pola pikir menjadi pembelajar mandiri dan adaptif dengan perubahan baru, berpikir kritis, dan analitis hingga ketrampilan sosial emosional seperti komunikasi, kreatif, dan kolaboratif. (ist/kompas.com)