Wasathiyyah, Solusi Perajut Persatuan yang Ramah

ARTIKEL ILMIAH715 Dilihat

Dari makna yang dikemukakan itu, kita dapat menarik pesan tentang pemilihan kata ummah oleh Al-Qur’an untuk kumpulan muslimin  dengan kesamaan agama yang dianutnya dengan mengedepankan nilai-nilai luhur dan hikmah.

وسطا  kata yang berasal dari tiga huruf tersebut memiliki makna baik, indah, kuat, mulia. Tidak heran jika kita menganggap umat Islam yang merupakan ummatan wasathan itu sebagai khaira ummah. Karena Ar-Razi mengemukakan pendapatnya tentang  wasath itu merupakan himpunan dari Adl (meletakkan sesuatu pada tempatnya), terbaik, yang paling utama dan bersikap moderat  dengan arti tidak berlebihan dan juga tidak berkekurangan.

Perlu dicatat bahwa, wasathiyyah bukanlah sebuah mazhab dalam Islam, bukan juga aliran baru, melainkan salah satu dari ciri utama ajaran Islam. Sebenarnya, sungguh teramat sulit mendefenisikan makna wasathiyyah, karena defenisi harus dapat menampung semua unsur yang masuk dalam substansi apa yag didefenisikan sekaligus menyingkirkan yang tidak termasuk bagian darinya. Namun begitu, defenisinya dapat dimaknai melalui gambaran-gambaran yang diberikan oleh para pakar.

Quraish Shihab menuliskan didalam bukunya tentang makna Wasathiyyah yang berarti pertengahan menyangkut tuntunannya, baik tentang Tuhan, maupun tentang dunia, adanya hubungan tarik menarik antara yang ditengah dan kedua ujungnya, keseimbangan dalam segala persoalan hidup duniawi dan ukhrawi, yang selalu harus disertai dengan upaya menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi berdasarkan petunjuk agama dan kondisi objektif yang dialami serta keberpihakkan kepada kebenaran dengan hikmah.

Mantan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir DR. Ahmad Umar Hasyim dalam bukunya  Wasathiyat Al-Islam mendefenisikan Wasathiyah sebagai keseimbangan dan kesetimpalan antara kedua ujung sehingga salah satunya tidak mengatasi ujung yang lain, tidak berlebihan dan juga tidak berkekurangan, tidak melampaui batas juga tidak mengurangi batas. Ia mengikuti yang paling utama, paling berkualitas dan paling sempurna.

Pada akhirnya penulis mencoba menyimpulkan makna wasathiyyah berdasarkan uraian para pakar bahwa Wasathiyyah adalah keseimbangan, keadilan, keramahan, ketegasan, dan kelembutan untuk sebuah kebenaran dengan melihat situasi secara objektif dan cermat namun tidak keluar dari konteks yang telah digariskan oleh agama. Seimbang antara Amar Ma’ruf, Nahi Munkar, sehingga sikap ini dapat merajut ukhuwah islamiah dan ukhuwah insaniah dengan penuh toleransi dan hikmah. Karena dalam kehidupan bermasyarakat, jika mereka tidak saudaramu dalam seagama, pastilah saudaramu sesama manusia.

Penulis: Ferki Ahmad Marlion, Nofrizal & Faisal Adnan Reza

Blibli.com
Blibli.com