Pandemi Corona Tak Kunjung Usai, Misionaris Cilik Semakin Terancam

Berita Daerah438 Dilihat

“Menjadi misionaris cilik bukan berarti harus pergi ke luar negeri seperti mengelilingi benua Asia, Australia, Afrika, Amerika dan Eropa. Menjadi misionaris saat ini hendaknya dilakukan di tengah keluarga bersama orang tua, kakek nenek, kakak adik, om tante, juga di sekolah dan tempat bermain seperti bersama bapak ibu guru dan teman-teman di sekolah juga teman bermain setiap hari. Jadilah misionaris cilik sejati dan menjadi sahabat Tuhan Yesus,” pesannya.

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Minggu Misi sedunia. Seluruh umat beriman Katolik diajak untuk menanggalkan egoisme dan berani keluar dari kungkungan keegoan diri dan pergi menjumpai sesama saudara yang lainnya yang sangat membutuhkan sentuhan dan perhatian kita. Semangat 2D2K yang merupakan singkatan dari Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian mesti terus digelorakan dalam diri anak-anak SEKAMI (Serikat Kerasulan Anak Misioner) dan menjadi senjata utama bagi seorang misionaris cilik dalam bermisi ke manapun.

Maria Loka berpose bersama anak-anak sambil menyanyi dan melakukan gerakan secara bersam-sama.

Menurut Maria Loka, kondisi dan ruang gerak anak-anak di era new normal menjadi sangat dibatasi sampai kepada hak anak mendapatkan pendidikan juga sangat dibatasi ruang gerak mereka. “Kita mengajak orang tua agar jangan sampai membuat anak-anak mengalami suasana tertekan. Orang tua mestinya membuka ruang bagi anak-anak di rumah untuk bermain agar menyalurkan kreatifitasnya. Buat mereka tertawa dan mengalami sukacita sebagai anak. Anak-anak yang belum punya fasilitas bermain tentu sangat terpinggirkan,” ungkapnya.

Maria Loka juga menegaskan, di masa pandemi covid-19 ini, para orang tua meskipun fokus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi tetap memperhatikan terpenuhinya hak-hak anak. “Dalam pengamatan kami, hak anak-anak terabaikan bahkan banyak anak mengalami kekerasan dalam keluarga sehingga tumbuh kembang mereka menjadi dangat tergaganggu. Hari ini kita mengajak anak-anak untuk mengungkapkan rasa sukacita mereka lewat gerak dan lagu,” ujarnya.

Kepada orang tua Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Permata lembaga yang menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan Lembata ini mengajak agar anak-anak dilatih untuk berdoa bersama orang tua di keluarga masing-masing. Jadikan suasana rumah yang benar-benar “at home” agar di masa paceklik pandemi covid-19 ini anak-anak tetap mengalami bahwa hak-haknya sebagai anak sungguh diperhatikan.

Bola dunia dengan warna lima benua dan tema Hari Minggu Misi Sedunia Tahun 2020.

Menurutnya, acara yang dirancang dengan sangat sederhana tersebut ternyata membuat anak sangat gembira, bersukacita. Meskipun hanya sebagian anak namun apa yang anak-anak  alami hari ini yang mungkin selama ini tidak mereka alami di rumah mereka membuat mereka sungguh menikmati acaranya. “Hari ini menjadi kesempatan bagi kelompok bina iman anak bangkit kembali dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” pungkasnya.

Menyinggung soal kehidupan remaja di masa pandemi covid-19 yang semakin memprihatinkan aktivis perempuan Lembata ini mengatakan, meskipun pandemi terus merajalela tetapi frekuensi pergaulan bebas anak remaja pun semakin meningkat. Semoga para orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi untuk mencegah hal ini. (*)

Pewarta: Albertus Muda

Blibli.com
Blibli.com