oleh

Etos Kerja Guru di Masa Pendemi

WPdotCOM – Dalam bahasa Yunani, etos  memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesuatu kelompok

Menurut Toto Tasmara (2002), Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik.

Tak terkecuali profesi guru, dalam penerapannya dapat ditunjukkan dari cara pandang guru, sikap, serta semangat guru dalam memahami arti kerja yang sebenarnya. Seorang guru harus bekerja dengan sungguh-sungguh, etos kerja guru dapat dinilai dari kualitas atau hasil pekerjaan yang dicapai guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

Seorang guru mestinya memiliki etos kerja yang tinggi. Detik demi detik waktu yang dilalui berbanding lurus dengan sejumlah karya nyata yang dihasilkan.

Setidaknya menurut penulis,  ada dua ciri guru beretos kerja tinggi selama masa pandemi covid 19 ini.

Ciri pertama adalah gigih dan tangguh. Apapun situasi dan kondisinya kebutuhan belajar siswa harus yang utama dan terutama. Karena profesi guru adalah panggilan hidup bukan keterpaksaan atau bukan ikut-ikutan. Guru adalah pekerja kemanusiaan yang tujuan panggilannya adalah memanusiakan manusia.

Dalam situasi Pandemi Covid-19  ini yang kita tak pernah tahu kapan berakhir, etos kerja yang gigih dari seorang guru harapannya. Guru yang memiliki etos kerja  yang gigih adalah guru yang memiliki seribu satu macam terobosan dan inovasi, baik persiapan bahan ajar atau materi untuk kebutuhan belajar siswa di rumah, baik  luar jaringan(luring) maupun dalam jaringan (daring).

Baca Juga:  Guru Harus Sadari, Dahsyatnya Arti Sebuah Pujian dalam Pendidikan Karakter

Sementara ciri kedua, jujur dan bertanggung jawab. Jujur dalam melaksanakan panggilan hidupnya sebagai guru. Karena dalam panggilannya tersebut, seorang guru akan ditiru dan diguguh. Jujur menjalankan  tugas dan kewajibannya. Bukan menunggu di perintah atau di suruh oleh  kepala sekolah untuk melakukan sesuatu yang positif demi kemajuan lembaga dan kebutuhan peserta didik. Sebagai contoh, selama masa Covid-19, siswa diharuskan belajar di rumah, walaupun tanpa dikomando oleh kepala sekolahnya, ia melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan iklas dan senang hati. Baik dalam  menyiapkan bahan ajar dan materi maupun  evaluasi untuk siswa  di rumah.

Selain jujur, seorang guru yang beretos kerja tinggi adalah tanggung jawab. Dia bertanggung jawab dengan pilihan hidupnya sebagai guru. Selain dia bertanggung jawab dengan atasan , orang tua,  dan siswanya sendiri lebih dari itu, dia harus bertanggung jawab dengan Tuhan, tentang apa yang sudah dikerjakan dalam tugas perutusannya dalam memanusiakan manusia yang ada di diri siswa. Karena masa depan anak bangsa yang merupakan makluk titipan Tuhan  ada di tangan seorang guru.

Guru adalah pekerja mulia.  Segala karya dan keteladannya akan selalu diingat dan dikenang. Selama masa Covid-19 dimana siswa harus belajar di rumah, tanggung jawab seorang guru sangat diperlukan. Setelah bahan ajar, materi dan evaluasi yang sudah didesain, guru mendistribusikannya kepada siswa  untuk dipelajari siswa di rumah (luring maupun daring) dan ini dilaksanakan  secara berkelanjutan sehingga menjadi kebiasaan baru  guru selama masa pendemi dan masa new normal.

Sehingga, bagi seorang guru yang memiliki dua ciri di atas, akan selalu memiliki prinsip,”urusan gaji dan rejeki adalah materi yang dicukupkan tetapi urusan kerja dan dedikasi adalah sesuatu yang tidak pernah cukup. Dengan cara berpikirnya yang demikian, guru yang beretos kerja tinggi tak pernah mengenal kata lelah dan menyerah untuk berkeratifitas dan berinovasi.

Baca Juga:  Menguak Kabut Pembelajaran Bahasa Indonesia, Guru Harus Terampil Berbahasa

Guru Mulia Karena Karya dan Keteladannya” bukan hanya sebaris kata-kata bermakna sindiran, pesimisme, tetapi menjadi sebuah do’a. Seorang guru dengan karya dan keteladanannya untuk perkembangan anak bangsa yang lebih baik merupakan bukti bahwa guru itu mulia.

Penulis: Viktorinus Rema Gare