
Hingga akhir hayatnya, Kartini tidak mewujudkan cita-citanya untuk bersekolah ke tingkat yang lebih tinggi baik dalam negeri maupun di luar negeri. Tahun 1903, Kartini menikah dan setahun berikutnya, tepatnya 13 September 1904 putranya lahir. Empat hari setelah melahirkan 17 September 1904 Kartini meninggal dunia.
Kisah pergumulan hidup Kartini sebagai seorang anak perempuan bangsawan Jawa, memberikan pelajaran bermakna dan teladan yang dapat kita aplikasikan, khususnya untuk para perempuan Indonesia. Pertama, semangat Kartini, kedua cita-cita Kartini, dan ketiga, perjuangan Kartini.
Pertama, semangat Kartini dapat dilihat dari kegigihannya untuk terus berlajar dan mendapat pengajaran meskipun hal tersebut susah dicapai karena tradisi budaya yang mengungkungnya. Kartini tidak patah arang dan niatnya pantang surut. Ketika berada dalam masa pingitan, Kartini tak pernah berhenti belajar melalui kegiatannya membaca buku, majalah dan surat kabar. Tindak lanjutnya, ia pun sering berkirim surat dengan teman-temannya di negeri Belanda.
Kedua, cita-cita besar Kartini bagi kaumnya yakni memperjuangkan nasib dan kedudukan perempuan, terutama perjuangan agar perempuan mendapat hak pendidikan dan pengajaran yang sama dengan kaum laki-laki. Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki memiliki harkat dan martabat yang sama. Dengan demikian, hak mendapatkan pendidikan mesti dialami baik perempuan maupun laki-laki.
Selain kedua hal di atas, pelajaran penting ketiga adalah tentang perjuangan Kartini. Kondisi saat itu, mendesaknya berjuang menghadapi adat istiadat yang tidak menguntungkan kaum perempuan. Lantas, ia berjuang untuk membebaskan kaumnya agar tidak terkungkung dalam tradisi yang justru dapat mengalienasi/mengasingkan kaum perempuan dari dirinya, budayanya dan bangsanya.
Perjuangan akan emansipasi inilah yang kemudian membawa perubahan bagi kaum perempuan. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik dari masa sebelumnya. Sekarang ini perempuan Indonesia di mana pun telah dapat merasakan dan mengeyam pendidikan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Seandainya dulu Kartini tidak menggelorakan semangat emansipasi ini, mungkin kita tidak akan menyaksikan adanya politisi perempuan, dokter perempuan, dosen perempuan bahkan presiden perempuan di Indonesia pun akan sulit kita punyai.
Kita pantas mengapresiasi tokoh perempuan yang satu ini. Kita berharap, perempuan di zaman ini tidak pasrah pada keadaan. Spirit emansipasi Kartini mesti terus menyala dalam diri perempuan-perempuan Indonesia zaman ini. Penindasan, pelecehan, perbudakan seks mesti dilawan dan disingkap.
Perempuan kini dan yang akan datang meski dididik dengan baik agar matang sebelum berkarir dan membangun hidup keluarga. Perempuan zaman ini memegang peranan penting untuk mendidik generasi selanjutnya. Keberhasilan generasi saat ini dan akan datang sangat tergantung dari hasil didikan orang yang pertama kali mendidiknya, yakni ibunya, yang adalah seorang perempuan! Terima kasih R.A. Kartini. Sungguh besar cita-citamu bagi perempuan-perempuan Indonesia. (*)
Penulis: Albertus Muda, S.Ag (Founder TBM Ua Gemata Waikomo-Lembata-NTT)



















