
Sayangnya, pembelajaran dengan metode e-learning yang terhubung dengan layanan internet tidak selamanya menjamin peserta didik aman dari pengaruh dunia digital. Media digital dengan segala kebebasannya menyajikan beragam informasi baik positif maupun negatif. Peserta didik yang tidak siap dengan informasi yang begitu deras dan berlimpah, berpotensi terpapar konten-konten negatif yang dapat menggerus karakter mereka. Terjadinya kasus-kasus bullying, pornografi, pergaulan bebas dan tindakan kriminal lainnya merupakan dampak dari penyalagunaan media digital dikalangan pelajar.
Pengaruh negatif lainnya dari teknologi dan internet yaitu mendatangkan kecanduan bagi penggunanya. Segala hal tersedia di internet yang membuat sebagian siswa betah belama-lama. Kondisi demikian dikuatirkan akan membentuk karakter pelajar menjadi pribadi yang konsumtif, minim kreativitas, malas berinovasi dan ingin mendapat sesuatu dengan cara yang instan. Pengaruh dari kecanduan internet juga membuat siswa malas berpikir, kurang bertanggung jawab sehingga tidak maksimal dalam menyelesaikan tugas-tugas belajarnya.
Sejak pandemi Covid-19 menerjang dunia termasuk Indonesia, kegiatan pembelajaran lumpuh total. Program belajar dari rumah (BDR) menjadi pilihan untuk dilaksanakan. Selama itu pula peserta didik akrab dengan dunia digital yang tidak selamanya aman bagi perkembangan karakter mereka. Yang dikuatirkan bila pandemi ini berlangsung lama dan pembelajaran daring terus dilakukan, maka peserta didik akan terbiasa dengan kemudahan-kemudahan yang kurang mendidik dan tidak mendewasakan.
Mirisnya lagi, bisa jadi mereka akan kehilangan banyak waktu dengan pendidikan karakter yang nilainya sangat berharga sebagai bekal menjalani kehidupan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mengkristalkan nilai-nilai karakter dan aklak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Sudah saatnya pemerintah dan sekolah merumuskan kebijakan terbaik dalam menjawab tantangan pendidikan karakter selama masa pandemi. Kita tidak mengharapkan pudar dan suramnya karakter peserta didik menjadi bagian dari kebiasaan baru dari kehidupan mereka. Sungguh sebuah ironi, bila nantinya kita tak lagi merasa aneh melihat generasi muda kita kehilangan karakter positif akibat sistem pembelajaran daring yang hanya memprioritaskan transfer pengetahuan tanpa memperhatikan penanaman nilai-nilai moral dan karakter.
Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait erat dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Keberhasilan pendidikan karakter di sekolah harus ditopang oleh menajemen sekolah yang berkarakter pula. Manajemen yang dimaksud di sini adalah bagaimana sekolah merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pendidikan karakter dengan benar melalui berbagai aktivitas yang ada di sekolah. (*)
Penulis: Petrus Yosef Polur, S.Ag (Guru Pendidikan Agama Katolik SMPK Santa Theresia Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT)



















