
Pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak (kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas, dan spiritual). Pendidikan dengan model pendidikan seperti ini berorientasi pada pembentukan anak sebagai manusia yang utuh. Kualitas anak didik menjadi unggul tidak hanya dalam aspek kognitif, namun juga dalam karakternya. Anak yang unggul dalam karakter akan mampu menghadapi segala persoalan dan tantangan dalam hidupnya.
Pada saat menentukan metode pembelajaran, yang utama adalah menentukan kemampuan apa yang akan diubah dari anak setelah menjalani pembelajaran tersebut dari sisi karakternya. Apabila kita ingin mewujudkan karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membentuk peserta pendidik sukses dalam pendidikan dan pengajarannya.
Tantangan Bagi Penguatan Pendidikan Karakter
Secara jujur mesti diakui, keberlangsungan pendidikan karakter peserta didik belum terlaksana sepenuhnya sesuai harapan. Berdasaran analisis dan refleksi sederhana penulis, tantangan pelaksanaan penguatan pendidikan karakter pada masa Covid-19 ini dapat dilihat dari dua hal.
Pertama, pembelajaran berbasis online membuat siswa kehilangan figur dan sosok yang menjadi panutan. Kedua, penggunaan teknologi digital tidak mampu menjamin peserta didik aman dari terpaan badai konten-konten negatif yang berakibat pada persoalan moralitas dan krisis karakter.
Hemat saya, salah satu kunci pendidikan karakter adalah adanya role model individu berkarakter. Di sekolah, yang menjadi tokoh sekaligus figur panutan bagi peserta didik dalam menumbuhkan dan mengelindingkan nilai-nilai karakter adalah sosok seorang guru. Guru yang berkarakter akan mampu menunjukan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kesehariannya sehingga dapat ditiru dan diguguh oleh peserta didik. Karena pada prinsipnya seorang anak adalah peniru.
Peserta didik akan mudah mengembangkan karakternya dengan meniru atau menyaksikan perilaku gurunya. Pembiasaan dan contoh teladan yang diberikan guru akan melahirkan peserta didik yang memiliki karakter mulia. Misalnya saja, siswa terbiasa disiplin dengan datang tepat waktu karena melihat guru-gurunya juga selalu hadir tepat waktu. Ketika mengikuti ujian, peserta didik akan berusaha jujur karena menyadari gurunyaselalu mengutamakan kejujuran dalam keseharian. Demikian juga, mereka akan terbiasa bersikap sopan karena mencontohkan gurunya yang selalu bersikap sopan dan rama kepada siapa pun.
Harapan ini terasa bergeser sejak pembelajaran jarak jauh diberlakukan, segala aktivitas belajar mengajar berpindah ke ruang-ruang digital.Intensitas perjumpaan guru dan siswa berkurang dan komunikasi hanya dapat dibangun lewat dunia digital. Keakraban dan kedekatan batin yang terjalin melalui bimbingan, arahan, dan teladan antara siswa dan guru tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pesesrta didik seperti kehilangan figur yang digugu dan ditiru. Kondisi tersebut membawah kekosongan dalam diri siswa terhadap nilai-nilai pendidikan moral dan karakter.
Pembelajaran berbasis online memanfaatkan perkembangan kecanggian teknologi informasi sebagai media belajarnya. Aktifitas belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa ada batas ruang dan waktu. Setiap hari guru dapat mentransfer pengetahuan serta menginstruksikan tugas-tugas belajar kepada siswa dengan menggunakan berbagai aplikasi digital. Kegiatan belajar mengajar, membimbing, mengevaluasi dan melakukan penilaian secara daring juga tidak menemukan kendala berarti sedangkan peserta didik lebih fleksibel dalam belajar. Mereka dapat mengunduh materi, menyelesaikan tugas dan mengirim laporan kembali dimana dan kapan saja.



















