
Pada dasarnya perkembangan teknologi digital ini diharapkan bahwa masyarakat dapat menjadi lebih berkualitas dan perkembangan manusia manjadi lebih cepat. Hal ini akan menjadi salah satu penyebab perubahan social budaya masyarakat dan gaya hidup kaum milenial Indonesia. Karena era digitalisasi dimana segala sesuatu mudah diakses, harus membuat manusia-manusia menjadi manusia yang lebih pintar dan bijak karena akses yang mudah.
Kelemahannya pada era digitalisasi adalah kurangnya kemauan untuk bisa atau mau mengakses dan membaca. Dan pada akhirnya budaya literasi akan hilang dengan sendirinya, tetapi pada sisi positif manusia bisa mengembangkan diri karena dapat mengakses berbagai macam informasi baru.
Dalam sebuah era baru, harus kita sadari bersama bahwa hal ini akan dapat membuat sebuah benturan budaya atau clash of civilation. Seperti kebiasaan tradisional yang berubah dan cenderung ditinggalkan, contoh konkretnya adalah sekarang ini undangan untuk bersilaturahmi (bertemu langsung) atau undangan untuk menghadiri rapat hanya melalui pesan singkat pada smartphone. Sehingga pada akhirnya tradisi silaturahmi (bertemu langsung) akan terkikis karena orang merasa waktunya terbuang.
Tetapi menurut penulis, hal ini tidak akan serta-merta hilang, karena sebuah kultur yang sudah terjadi lama tidak bisa begitu saja menghilang, tetapi akan terjadi benturan secara terus-menerus sehingga akan menghasilkan kolaborasi budaya yang ideal dalam masyarakat.
Hal ini dapat kita amati dengan fenomena pangkalan ojek dan lahirnya ojek online yang menyebabkan terjadinya konflik sosial. Dalam fenomena ini akan terjadi dua sisi kolaborasi yaitu membangun perkembangan teknologi dan mendestruksi. Sehingga dapat kita simpulkan dengan fenomena pangkalan ojek dan ojek online bisa dilihat bahwa digitalisasi dapat membangun perekonomian baru, namun secara bersamaan juga dapat mendestruksi kebiasaan tradisional yang sudah ada sebelumnya.
Untuk membentuk paradigma masyarakat mengenai era digitalisasi memang diperlukan. Maka peran para komunitas akademik dapat membantu hal tersebut. Karena peranan komunitas akademik akan berada dalam revolusi digital, yaitu menerima dan menanggapi perubahan ini, sebagai peluang untuk dapat semakin berperan di dalam banyak hal dan semakin meningkatkan kualitas manusia.
Dengan peluang yang besar untuk memanfaatkan digitalisasi, maka akan semakin mudah kita memanfaatkan teknologi digital. Kita bisa membangun jejaring untuk bisa memberi pendidikan bagi masyarakat yang tidak mempunyai akses, misalnya pada pembelajaran distance learning (pembelajaran jarak jauh) sehingga akan terjadi pembangunan kualitas manusia yang merata.
Sikap yang harus kita kembangkan dalam era digital, adalah lebih bijak dalam menerima perubahan agar tidak terjadi masalah atau gap social budaya dalam masyarakat. Sehingga pembangunan fisik dan pembangunan kualtas sumber daya manusia akan terwujud secara merata di Indonesia, dengan tidak menghilangkan budaya kita.
Sumber:
- Pius Sugeng Prasetyo. Budaya Digital: Membangun atau Mendestruksi. Dosen Universitas Parahyangan
- Frit H. S. Damanik. Membentang Fakta Dunia Sosial SOSIOLOGI Kelas XI. Jakarta. Bumi Aksara
Penulis: Widiyanti, S. Pd. (Guru SMA Negeri 3 Kota Batu)


















