
Dalam hubungan antar manusia, karakter ini dicerminkan dalam sikap saling menghormati, saling menghargai, saling bekerjasama, memberi kebebasan untuk menjalankan ibadahnya masing-masing sesuai dengan ajaran agamanya, tidak pernah memaksakan agama dan kepercayaannya kepada orang lain, serta tidak melecehkan agama dan kepercayaan lain.
- Bangsa yang menjunjung tinggi nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Perilaku ini diwujudkan dalam bentuk sikap saling menghormati, saling menghargai antar warga masyarakat, sehingga timbul suasana kewargaan yang saling bertanggung jawab, juga adanya saling hormat menghormati antar warga bangsa sehingga timbul keyakinan dan perilaku sebagai warga negara yang baik, adil, beradab dan pada gilirannya karakter citizenship (perilaku sebagai warga negara yang baik) ini akan memunculkan perasaan hormat dari bangsa lain.
Karakter kemanusiaan tercermin dalam pengakuan atas kesamaan derajat, hak dan kewajiban, saling mengasihi, tenggang rasa, peduli, tidak semena-mena terhadap orang lain, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan, merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh warga bangsa dan umat manusia.
- Bangsa yang mengedepankan Persatuan dan Kesatuan.
Karakter ini tercermin dengan memiliki komitmen dan perilaku yang mengedepankan persatuan dan kesatuan Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Sikap dalam menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan, suka bergotong royong dengan siapapun saudara sebangsa, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, bangga sebagai bangsa Indonesia yang bertanah air Indonesia serta menjunjung tinggi bahasa Indonesia, memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa, cinta tanah air dan negara Indonesia yang berbhinneka tunggal ika.
- Bangsa yang demokratis dan Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang demokratis, hal ini tercermin dari sikap dan perilaku warga bangsa yang senantiasa mengutamakan musyawarah, berlandaskan dengan nilai dan semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, mengahargai pendapat orang lain, tidak menyela pembicaraan orang lain, serta melaksanakan hasil keputusan dengan penuh tanggungjawab. Hikmat kebijaksanaan mengandung arti tidak adanya tirani mayoritas atau sebaliknya, yaitu tidak adanya tirani minoritas. Tidak ada yang memaksakan kehendak atas nama mayoritas, atau selalu berharap adanya toleransi (walau salah dan merugikan sebagian besar warga bangsa) atas nama minoritas.



















