Dua Kapal Karya SMKN 3 Buduran dan Politeknik Perkapalan Surabaya Sudah Melaut

Teknologi552 Dilihat

Sementara itu pelaksana tugas (Plt) Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Anang Ristanto, mengapresiasi PPNS dan SMKN 3 Buduran serta mitra dunia usaha dan dunia industri atas kolaborasi yang dilakukan. Sehingga, menghasilkan karya hebat dan inovatif.

“Saya sudah mencoba berlayar dengan menggunakan kapal tersebut. Ini hasil karya yang sangat luar biasa. Kami berharap hasil karya ini dapat menjadi contoh untuk terus menghasilkan karya yang inovatif,” tutur Anang.

Kapal yang diberi nama Kapal Ijon-Ijon “Putri Mayang Madu” ini merupakan kapal tradisional yang dibuat oleh siswa SMKN 3 Buduran melalui program SMK PK SPD. Kapal ini dibuat dengan menggandeng PT Tunas Maritim Global sebagai mitra industri. Kapal ini memiliki panjang 12 meter, lebar 3,5 meter, dan tinggi 1,5 meter, serta mampu berlayar hingga kecepatan maksimal 7 knot.

Kemdikbudristek juga meresmikan kapal jenis pentjalang atau pencalang yang diberi nama “Putra Sunan Drajat”. Nama Putra Sunan Drajat dan Putri Mayang Madu diambil dari nama salah satu Wali Songo yaitu Sunan Drajat yang juga dikenal dengan Sunan Mayang Madu.

Kapal Pencalang dibuat oleh PPNS melalui skema Matching Fund 2022 dengan melibatkan sejumlah mitra industri, di antaranya PT Blambangan Bahari Shipyard, PT Samudra Sinar Abadi, dan sejumlah mitra industri lainnya. Kapal Pencalang memiliki panjang 12,2 meter, panjang garis air 11,25 meter, tinggi 1,5 meter, dan lebar 4 meter. Kecepatan yang dimiliki berkisar 13,5 knot dengan daya angkut normal berkapasitas 5 orang.

Meski terbuat dari kayu, kedua kapal ini memiliki beberapa fitur menarik. Beberapa fitur modern yang diaplikasikan pada kapal ini adalah penggunaan perekat khusus pada proses laminasi konstruksi kapal, penggunaan AIS (automatic identification system) untuk tracking posisi kapal, penggunaan Passive Radar Reflector supaya kapal besar mengetahui keberadaan kapal kecil, serta penggunaan solar panel untuk sumber listrik.

Direktur PPNS, Eko Julianto, mengatakan keberhasilan pembuatan kapal tradisional oleh PPNS dan SMKN 3 Buduran ini menunjukkan dukungan insan vokasi semakin kuat pada pendidikan vokasi di Indonesia. Dia berharap dengan diresmikannya kedua kapal tersebut akan menjadi awal bangkitnya industri kapal kayu yang masih sangat dibutuhkan oleh nelayan di Indonesia.

“Semoga ini bisa menjadi momentum kebangkitan dan melejitkan pendidikan vokasi,” ujar Eko. (medcom)

Blibli.com
Blibli.com