Membangun Kelompok Siaga Bencana: Konsultasi, Partisipasi, dan Kolaborasi

Berita Opini5113 Dilihat

Selanjutnya, aspek partisipasi, merupakan tingkat lanjut dari bagaimana sebuah kelompok siaga bencana mampu meningkatkan kapasitas. Dalam hal ini, masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama dalam setiap tahapan mitigasi. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam membangun komunitas siaga bencana. Keterlibatan aktif masyarakat dapat meningkatkan efektivitas program siaga bencana.

Bentuk partisipasi ini meliputi pelatihan dan simulasi bencana, yang ditujukan agar masyarakat memiliki keterampilan dalam menghadapi keadaan darurat. Demikian pula pada pemetaan risiko berbasis komunitas, pada bagian ini masyarakat mampu mengidentifikasi daerah rawan dan strategi evakuasi. Pada konsepnya, masyarakat setempat adalah subjek yang paling mengenali lokasi dan lingkungannya.

Dan dari dua hal itu, masyarakat dapat berpatisipasi dalam pembuatan rencana aksi lokal, seperti pembentukan tim tanggap darurat berbasis warga. Strategi ini, selanjutnya akan dikolaborasikan dalam ragam program di kelompok-kelompok siaga bencana yang ada di tingkat masing-masing.

Menurut Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR – United Nations Office for Disaster Risk Reduction), masyarakat yang terlibat langsung dalam upaya kesiapsiagaan akan lebih tanggap dan efektif dalam merespons bencana.

Pada aspek akhir, dalam membangun komunitas siaga bencana di tingkat masyarakat adalah kolaborasi, sebagai sinergi multi-pihak untuk munculnya resiliensi terhadap kebencanaan.

Kolaborasi adalah elemen penting dalam kesiapsiagaan bencana, karena bencana memerlukan respons terpadu dari berbagai sektor. Dalam buku Building Resilience: Social Capital in Disaster Recovery dijelaskan, komunitas yang memiliki jaringan sosial kuat, akan lebih cepat pulih dari bencana. Sejalan dengan itu, dalam Disaster Risk Reduction, disebutkan bahwa keberhasilan kolaborasi, bergantung pada komunikasi yang baik, transparansi, dan pembagian peran yang jelas antar-stakeholder.

Membangun komunitas siaga bencana memerlukan pendekatan yang sistematis dan berbasis ilmiah. Konsultasi membantu dalam memahami risiko dan menyusun strategi yang tepat, partisipasi memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana, disertai kolaborasi untuk memastikan sinergi antara berbagai pihak untuk meningkatkan resiliensi. Dengan menerapkan ketiga aspek ini, KSB dapat lebih siap dan tangguh dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan. (*)

Penulis: Nova Indra (Direktur P3SDM Melati, Penulis, Jurnalis, Praktisi)

Blibli.com
Blibli.com