Anatomi Spiritual Bencana dalam Puisi Saunir Saun

ARTIKEL9037 Dilihat

Kekuatan utama dalam esai puitis Pak Saunir ini terletak pada kontras yang dibangun antara kehancuran fisik dan kehancuran moral. Beliau menyoroti fenomena “hati yang mati” (Qalbun Mayyit). Hati yang tidak lagi bergetar melihat penderitaan sesama adalah bencana yang jauh lebih dahsyat daripada banjir bandang itu sendiri.

Pak Saunir tampak sangat terluka ketika menuliskan sikap para pemimpin yang “ngomong asal-asalan”. Seseorang yang dituakan seharusnya memiliki ketajaman empati, sebab pemimpin yang mengabaikan penderitaan rakyatnya telah terputus koneksi ruhaninya dengan Sang Khalik.

Salah satu metafora paling kuat yang digunakan Pak Saunir adalah “luka menganga”. Ketika bantuan ditolak atas dasar sentimen sempit, beliau mengingatkan kita bahwa adab manusia sejati adalah membantu tanpa “pandang bulu”. Kritik tajam ini sejalan dengan nilai universal dalam sebuah Hadis Riwayat Muslim: “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” Pak Saunir berdiri pada posisi yang jernih: menolak tangan yang ingin membantu saudara yang sedang meregang nyawa adalah bentuk keangkuhan spiritual yang berbahaya.

Menjelang akhir puisinya, Pak Saunir memberikan peringatan teologis yang sangat serius mengenai doa kaum yang terzalimi (mazlum) yang memiliki jalan pintas menuju Arsy Tuhan tanpa penghalang. Kezaliman, menurut beliau, tidak akan bisa bertahan lama di bawah pengawasan Ilahi. Beliau menawarkan sebuah “jalan keselamatan”: mohon maaf dan minta ampun kepada Tuhan sebagai bentuk taubat nasuha secara kolektif.

Sebagai penutup, melalui puisi “Ditinggalkan Waktu”, Pak Saunir Saun telah berhasil menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara. Puisi ini adalah sebuah memoar duka sekaligus refleksi tajam bagi siapa saja yang masih memiliki nurani, agar tidak membiarkan waktu menyapu bersih rasa kemanusiaan kita. Pak Saunir mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, yang tersisa dari seorang manusia bukanlah seberapa lama ia hidup melewati tahun-tahun yang berganti, melainkan seberapa besar jejak kasih sayang yang ia tinggalkan di hati mereka yang terluka.

Blibli.com
Blibli.com