Anatomi Spiritual Bencana dalam Puisi Saunir Saun

ARTIKEL9038 Dilihat

Selanjutnya, mari nikmati kata-kata demi kata dalam puisi Ditinggalkan Waktu karya Saunir Saun.

 

Ditinggalkan Waktu

Saunir Saun (2025)

 

Bulan telah berganti

Tahun ini pun akan segera pergi

Dan tak akan kembali

Makin jauh jarak peristiwa

Yang terjadi ngeri di negeri ini

 

Dari peristiwa akhir November itu

Kini telah mulai ditinggalkan waktu

Karena telah hampir habis pula Desember ini

Bencana longsor dan banjir bandang

Tanpa basa-basi menerjang garang

 

Dalam beberapa hari ini

Waktu akan menghadirkan tahun baru

Yang akan membuat jarak makin jauh dari  peristiwa itu

Peristiwa yang membuat hati terenyuh luluh

Kecuali hati yang mati yang hilang rapuh

 

Walau peristiwa akhir November itu ditinggal jauh

Di mana lebih seribu  orang terbunuh

Ratusan desa, kampung atau nagari luluh lantak

Ia tidak akan hilang dan dalam ingatan tetap akan  terang

Termasuk banyaknya  orang  yang hilang

 

Anak, orangtua, saudara, teman dan keluarga

Yang hilang dan terpisah tiba-tiba

Harta benda yang dipunya hancur hilang seketika

Semua meninggalkan luka

Luka menganga pada jiwa

 

Kalau dilihat dari udara

Keadaan dan akibat banjir dan longsor di Sumatera

Di mana pemukiman yang dahulu damai dihuni warganya

Kini rata!

 

Kini kayu dan batu yang terlihat mata

Demikian pula kerusakan  hutannya

 

Walau begitu dahsyatnya  bencana menimpa

Warga atau teman-teman sebangsa di Sumatera

Banyak juga orang berkata sembarang saja

Bahkan pejabat yang tak takut hilang muka

Memhuat orang-orang  sisa di Sumatera makin terasa luka

Luka menganga

 

Sudah begitu hebatnya bencana yang mendatangkan nestapa

Orang-orang yang tak dapat merasakannya tetap ada

Mereka yang berusaha membantu tetap saja dicela

Dan usaha serta bantuannya dibandingkan dengan bantuan negara

Yang dinilai mereka tak seberapa

Padahal mereka tidak beri apa-apa

 

Terkadang terbaca pula oleh kita

Orang luar lebih peka dari pada orang-orang kita

Mereka berusaha kumpulkan bantuan

Tapi dengan kasar ada kita yang melakukan penolakan

 

Adalah adab manusia dari dahulu

Saudara-saudara yang menderita dibantu

Tidak pandang agama, bangsa atau suku

Artinya, tidak pandang bulu

Permohonan dari mereka tak perlu ditunggu dulu

Tapi cepat bantu!

 

Anehnya kita menolak bantuan mereka

Membiarkan warga kita menderita

Pekikan mereka yang menjadi sisa bencana

Dan para pemimpin daerah yang melihat nyata dan membantu mereka

Sepertinya dianggap tidak apa-apa

 

Tidakkah merasa berdosa membiarkan saudara sendiri

Menahan lapar dan derita antara hidup dan mati

Terlalu sampai hati

 

Dalam kondisi duka yang  mendalam

Banyak pula pemimpin kita yang tak dapat merasakan penderitaan

Sampai “ngomong” asal-asalan

Melukai dan menyakitkan

Telah mengabaikan adab dan kepatutan

Ada yang “ngomong” tanpa lihat dulu kenyataan

 

Bukankah itu sebuah kezoliman nyata yang dibenci Tuhan

Membiarkan saudara sendiri dalam penderitaan

Kita tahu doa-doa mereka cepat dikabulkan Tuhan

Yang menzolimi apakah bisa bertahan?

 

Semoga benar-benar mohon maaf dan minta ampun kepada Tuhan

Hanya itu jalan keselamatan

Dari azab Tuhan.

 

Rumahku, Padang,

25 Desember 2025.

———-

 

Penulis Irwandi Nashir (Dosen UIN Bukittinggi/Pegiat Civil Diplomacy. Pernah menjadi murid Pak Saunir Saun di jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Padang tahun 1998).

Blibli.com
Blibli.com